Tampilkan postingan dengan label Nusa Penida. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusa Penida. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Maret 2017

StartHub Wageningen

Sudah sejak 5 bulan lalu sebenarnya tau tentang komunitas ini, tapi sungguh baru hari ini yang bener bener mengumpulkan niat dan berkunjung juga akhirnya ke kantor StartHub. Rasa 'harus banget' untuk segera ke starthub sebenernya muncul karena dua minggu lalu Kadek Agus danAndriza sharing lumayan ribetnya perihal urusan pengiriman produk ke Jerman, pengiriman pertama kami, berpartner dengan masbro Gentyana (Alhamdulillaah mohon doa ya teman teman), yang sebenarnya ngga besar kuantitasnya, namun sebagai pemula lumayan juga bingang bingungnya disana sini. Gapapa, sambil belajar ya gaes hehe. Jadi untuk lebih paham tentang regulasi keluar masuk barang di EU sampailah saya di starthub sore ini demi mencoba mencari wangsit hehe



Sesuai dengan meeting appointment via email, saya sore tadi bertemu dengan Stijn de Vries, studentboard chairman of starthub wageningen. Saya bertanya terkait membership serta kegiatan apa saja yang dilakukan di organisasi tersebut. Dari penjelasan yang diberikan oleh Stijn... wow! menarik banget! baik dari project project/bisnis yang sedang dikembangkan maupun kegiatan kegiatan yang dilaksanakan di sana. Fasilitas yang ditawarkan juga ketje sekalih, dan agar lebih optimal mengakses fasilitasnya disarankan untuk menjadi anggota. Biaya pendaftaran untuk menjadi member adalah 25 euro per tahunnya. Setelah menjadi member kita mendapatkan akses untuk coaching business serta workshop yang disediakan secara gratis ( ga deng, dengan membayar 25 euro setahun tadi itu hehe)

Ada juga program mentorship dimana kita bisa mendapat mentor untuk diskusi perkembangan ide/ bisnis yang dijalankan. Selain itu, pada setiap rabu, kalo tidak salah dari pukul 13.00-17.00 ada partner partner yang khusus dihadirkan, dari rabobank, konsultan akuntansi, perusahaan investasi, serta dari lembaga business coaching dimana kita dapat melakukan konsultasi terkait perbankan, investasi dan lain lain. Wow wow wow bets ya!

Alhamdulillaah, rasanya seneng sekali sore tadi dengan informasi yang didapat. In short, cant wait for the upcoming workshops and coaching sessions. Yuuk teman teman yang tertarik gabung juga. Semoga informasinya bermanfaat :)

Kamis, 09 Januari 2014

Fosil di benaman kapur.

Bagi saya, bila berpadu dengan hijau rerumputan maka tebing yang kecoklatan menjadi padanan yang menawan. Bila berbatas laut maka tebing menjadi pundak bagi ombak ombak yang menghempas tepian. Tebing bersama keduanya memanjakan mata. 

Begitu bagi saya, 
kemudian (kembali) diceritakan sejarah ini.

Puluhan juta tahun lalu pada masa daratan masih di awal (kiranya) pergerakannya, pada saat ketika tanah sumatra masih menyatu dengan tanah jawa, begitu kemudian dipanggil. Pergerakan lempeng yang memakan proses tahun demi tahun membuat daratan daratan bergerak berpisah sehingga kemudian terbentuk lima benua. 

Barat Indonesia merupakan bentukan dari dangkalan sunda. Gajah, harimau yang menyeberang dari bagian utara ke selatan, kemudian atas peristiwa lempeng yang bergeser membuat individu-individu yang terpisah secara geografis memiliki persamaan ciri dari individu individu di sebelah utara. Timur Indonesia sendiri merupakan bentukan dari dangkalan sahul. Tanahnya dihidupi oleh individu individu dengan karakter tersendiri, tak sama dengan daratan sebelah barat. 

Sekarang tempat berpijak, tapi bagaimana dulu?

Pagi pagi kami menuju tanah tertinggi pulau. Puncak Mundi, begitu orang lokal menyebut nama tenarnya. Katanya pulau ini terbentuk atas lempeng yang muncul ke atas yang keluar dari permukaan air. Seluruh bagian pulau berbahan dasar batuan kapur, karst. Pada banyak tempat bukit bukit berubah menjadi ceruk-ceruk bekas kegiatan penambangan kapur.


Puncak Mundi adalah titik tertinggi pada gundukan biru muda



Mencapai puncak memerlukan waktu 1,5 jam berkendara. Segera kami mencari bagian bekas galian, mencari fosil di sela padatan kapur. Mencari pembuktian bahwa puncak tertinggi pulau sudah pernah mendiami kehidupan di bawah permukaan air laut. Lihatlah apa yang ditemukan! Fosil-fosil yang membeku di padatan kapur.:)



Asik mengorek kapur mencari fosil, mengidentifikasi.




Mas Aan ikut sibuk mengorek padatan kapur

Masuk ke ceruk bekas galian, mengorek dinding dindingnya.




Puas mengutak atik bekas galian di puncak, kami kemudian turun. Tersusul hujan yang terbawa angin lalu memutuskan menepi ke bekas tambang kapur, yang dimanfaatkan si teman untuk kembali mengamati dinding dindingnya.





mejeng di gua bekas tambang kapur :p
Melihat melalui kacamata yang berbeda tebing tebing ini menjadi sumber kekayaan intelektual. Lewat kacamatamu, apa tebing tebing ini punya makna lain? ;)

--- 

Epilog, teruntuk Dian yang begitu penasaran kisah perkenalan Gatot dengan Udin. 

Hujan teramat deras. Sore itu tetes tetes besar tumpahan langit menyambut Gatot melangkah keluar dari boat cepat yang ditumpanginya. Sedikit ribet dengan barang bawaan di punggung, dia melangkah cepat sambil membuka pesan di hp. Membaca lagi pesan yang menunjukkan arah menuju tempatnya menginap. 

“ Jadi Tot kamu itu turun di dermaga. Jalan terus aja ngikutin jalan aspal sampe jalan utama. Nah jalan aja ke arah barat ntar bakal nemuin pasar. Ikutin aja pasarnya ke arah barat nanti di kiri jalan ada tukang las-lasan. Maju dikit lagi bakal ada jalan setapak, jalan ikutin jalan setapak itu agak kelok-kelok ntar diujungya nemuin rumah yang agak nangkring di atas. Menuju rumahnya naikin undakan batu. Pintu triplek di depan rumahnya ada tulisan ‘Udin tukang cukur’ ya Tot.”

Berbekal pesan itu ia menelusuri jalan aspal ditemani hujan lebat. Di sepanjang jalan saat bingung hendak kemana dia bertanya dimana ya rumahnya ‘Udin tukang cukur?’. Lalu entah bagaimana cara akhirnya ia berhasil menemukan rumah yang dimaksud. 

Di situlah ia bertemu Udin.

Sejenak mereka saling bertatapan. Tiba-tiba Gatot merasa bahwa laki-laki di depannya tak semenggembirakan sebagaimana telah diceritakan. Gatut melihat pisau cukur berkilat digenggamannya. Wajah Udin mengatakan “Oh ini saingan si neng geulis yang mau minta foto urang pake kacamata?!” Terbersit kegentaran tapi kemudian Gatot bergerak mendekat meski tak sampai dua kaki, menjaga jarak. Melinting hem ke lengan atasnya kemudian dia menampakkan ototnya “mau apa maneh, hah!” (cem cem artis l-men).
*diceritakan kembali menurut yang dituturkan Gatot pada satu grup wasap*

Begitu ceritanya Din, bagaimana Gatot bertemu dengan Udin . Kemudian ini dia ada titipan foto :p

Kamis, 01 Agustus 2013

Menyusur Tepian Nusa Penida.

Suatu hari ketika kami menyusur jalan menuju tepian Nusa Penida; berkawan langit cerah, pahatan tebing coklat kehitaman, padang rumput kuning kehijauan, horizon pembatas langit dan laut, mata air, lalu tengah hari tampak dua ekor manta melayang anggun di permukaan kolom air; rasanya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur.


Terimakasih untuk Aga, Paijah, Mas Aan dan  Mail yang sudah menunjukkan potongan pulau cantik ini pada kami :) 

Sesi foto di Banah, Nusa Penida

Pasih Wug, Nusa Penida 

Bukit Teletubbies, Nusa Penida
Manta melayang di permukaan air (Banah, Nusa Penida)
Bukit Teletubbies, Nusa Penida

Bukit Teletubbies, Nusa Penida
Banah, Nusa Penida
Temeling, Nusa Penida
Crystal Bay, Nusa Penida
Mas Aan di Bukit Teletubbies, Nusa Penida

Aga di Bukit Teletubbies, Nusa Penida

Paijah di Bukit Teletubbies, Nusa Penida

Mail di Bukit Teletubbies, Nusa Penida

Dan satu lagi. Dari seluruh perjalanan-perjalanan; yang menanti, yang sudah-sudah, pun perjalanan kali ini; 
"Dan kemanapun hidup membawa kita Ren, semoga kita bisa tetap inget tujuan awal dari semua langkah-langkah itu." -pesan Falma dan Dian


Sabtu, 13 Juli 2013

Manta penghuni bukit


Berbeda dari manta pada umumnya yang hidup di kolom air, manta jenis ini mendiami bukit di Nusa Penida.

Sore ini saya bermotor ke bukit. Mas Eko dan Mbok Ayu, pasangan suami istri muda yang selalu ramah pada semua orang, mengajak saya melihat manta yang katanya mendiami salah satu bukit di Nusa Penida. Begitu penasaran akan keberadaan manta tersebut, maka saya putuskan untuk melihatnya langsung.

Ternyata dekat saja. Sepuluh menit bermotor kami sampai di satu lahan yang dipenuhi dengan alat alat pertukangan dan sebentuk rumah di tengahnya. Kami datang dari samping bangunan tersebut. Rupanya rumah ini dalam tahap pembangunan, rumah Mas Eko dan Mbok Ayu.

Sudah lama tidak ngobrol, kami duduk di ruang tengah lesehan sambil bercerita apa saja. Tampak wajah sumringah dari kedua pasangan tersebut. Berharap pembangunan rumah sudah selesai sebelum idul fitri. Naeva, putri Mas Eko dan Mbok Ayu yang masih berumur 3 tahun, sibuk keluar masuk ruangan sambil ceriwis menjelaskan ke temen-temen kecilnya ini ruangan apa itu ruangan apa.

Mbok Ayu mengajak saya ke teras lantai dua rumahnya, “Ada yang bagus di atas sana Ren, ayok lihat,” kata Mbok Ayu. Menaiki undakan lalu berhati hati melangkah ke bagian depan teras karena masih banyak kayu dan alat tukang yang berserakan. Menyingkirkan bambu dan kayu diantaranya. Masih sibuk mencoba mencari tempat yang pewe untuk duduk, Mbok Ayu mencolek pundak saya lalu menunjuk ke satu arah. Saya menoleh. Dan woow! Indah sekali teman teman di depan sana ::") Saya baru ngeh. Di depan sana tampak sunset. Dari balik awan-awan, tampak berkas berkas keemasan menembus celah-celah langit.

Berpembatas pepohonan hijau yang mendiami bukit kemudian bibir pantai menyatu dengan laut, tampak dari kejauhan ponton quiksilver, dermaga buyuk, pulau nusa lembongan, nusa ceningan; maka di ketinggian inilah sang rumah berdiri gagah.

Menatap lamat-lamat matahari yang mulai tenggelam. Ah, sinar keemasan seperti ini yang selalu bisa menarik ekor mata saya. Kadang-kadang sore seperti ini sambil menunggu tukang yang masih mengerjakan rumah, Mbok Ayu suka duduk di sini, lihat laut dan sunsetnya yang selalu menawan. Atau kalau sedang suntuk malam-malam dia duduk di teras lantai dua ini. Mbok Ayu bilang kalau dari sini bintangnya jadi lebih terang lebih kelihatan jelas. Lebih menakjubkan lagi kalau lagi purname tambahnya, lautnya keliatan berkilau dari atas sini. Well, deskripsi yang cukup membuat saya pengen berkunjung ke sini saat purnama. Saya pikir rasanya akan menakjubkan tiduran di atas atap, dengan banyak bintang terang atau saat terang purnama kemudian memikirkan banyak hal hehe. 

Pemandangan dari teras rumah

Pemandangan dari teras rumah


Tiba-tiba terlintas tentang manta di bukit.

“Oiya Mbok Ayu, mana manta di atas bukitnya?” tanya saya
Mbok Ayu senyum, “Coba mundur dikit Ren, terus liat ke arah atas.”

Menggeser duduk saya membelakangi matahari, kemudian mendongakkan kepala ke atas. Agak bingung sebentar. Menoleh ke Mbok Ayu, mengerutkan kening. Mbok Ayu menggambarkan bentuk manta dengan gerakan tangan lalu mencocokkannya dengan atap rumah. Oh! begitu rupanya.

“Waaa keren sekali Mbok Ayu. Aaaa jadi pengen punya rumah di sini juga,” kata saya dengan wajah mupeng. Baiklah, jadi saat ini saya dan Mbok Ayu sedang duduk di mulut manta. *setidaknya interpretasi saya atas teras ini adalah mulut manta haha

Beneran saya mupeng sekali. Hmm punya hunian di bukit sini jadi salah satu list saya nih sekarang hehe

Menengok dari jendela
Fadlan (kiri), Naeva (tengah), Izah (kanan); anak-anak cerdas dari Toyapakeh :") aduh kalian unyu sekali :3


Terimakasih atas undangan mengunjungi rumahnya Mas Eko dan Mbok Ayu, semoga pembangunan rumahnya lancar dan segera bisa ditempati. Boleh ya saya mengunjungi manta di atas bukit kalau sudah selesai dibangun :) 

Rabu, 10 April 2013

Makdah.



Hanya saja, rasanya hangat.

Hangat. Yang saya rasakan ketika berada di tengah keluarga Bu Mahmudah. Keluarga terdekat ketika saya diberi kesempatan untuk tinggal di Toyapakeh, Nusa Penida selama 3,5 bulan terkait pengerjaan penelitian tugas akhir.

10 Juni 2012, adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Pulau Nusa Penida. Waktu itu Mbak Pariama, seorang kawan dekat, meminta saya menemani beliau untuk menghadiri pernikahan temannya di Toyapakeh, salah satu perkampungan muslim di Pulau Nusa Penida. Tanpa babibu saya mengiyakan. Berdandan rapi jali lalu segera kami menuju Sanur untuk menyeberang ke Penida dengan boat.
Adalah kali pertama juga di waktu tersebut saya kondangan nyebrang pulau. Naik ke boat dengan melepas sepatu cantik khusus kondangan (yang tidak biasa dilakukan saat kondangan sebelum sebelumnya), ditambah celana panjang yang dipakai basah terendam air laut. Ya sudahlah, memang kawasan pesisir ini hehe.

Maka di sinilah segala ini berawal. Berkenalan dengan putri dari bu Mahmudah, bertukar nomor hp. Dan selanjutnya, 15 Oktober tahun lalu saya kembali ke Toyapakeh untuk memulai penelitian tugas akhir.

Tiga setengah bulan lamanya saya tinggal di rumah Makdah (begitu saya memanggil Bu Mahmudah). Awalnya saya ingin ngekos, tapi Makdah dengan sedikit memaksa mengajak saya untuk tinggal di rumahnya. Beliau menyampaikan bahwa ada kamar kosong, kamar Mbok Elok anak perempuannya yang sudah menikah lalu ikut suaminya, sayang kalau tidak dipakai katanya. Menimbang-nimbang satu dan lain hal, dan segera saya menjadi bagian dari keluarga beliau.

Tinggal di rumah Makdah, saya dilarang keras mengeluarkan sepeser uang pun untuk membayar listrik, air, atau apapun yang saya gunakan di rumah itu. Tidak pernah dibebankan kepada saya untuk melakukan hal ini hal itu. Pintu rumahnya pun selalu terbuka kapan saja, mengingat saya sering pulang diatas jam 12 malam saat ambil data penelitian. Suatu kali, pernah saya meninggalkan kamar dengan butir-butir pasir di lantai karena tidak sempat membersihkannya. Ketika kembali ke kamar sepulang dari laut lantai kamar sudah bersih, tak tampak lagi butiran pasir. Makdah bilang yang membersihkan itu hantu yang suka nemenin Makdah. Ah, beliau ini :’)

Izah (kiri), Makdah (tengah), Nadia (kanan). Satu sore saat kami duduk-duduk di dermaga

Satu dari banyak hal yang membuat saya trenyuh akan ketulusan hati wanita paruh baya ini.
Saya tidak suka gelap, sedang Toyapakeh sering sekali terjadi mati listrik. Entah sesaat setelah angin kencang, mendapat giliran pemadaman listrik, maupun saat hujan deras, Toyapakeh sering sekali mengalami mati listrik. Makdah selalu menyiapkan lampu teplok sesaat menjelang magrib, untuk berjaga-jaga bila mati lampu. Dan seperti inilah yang selalu terjadi bila listrik mati.
Bila listrik mati saya segera terjaga, tangan meraih hp atau senter yang sudah disiapkan di dekat bantal. Sebentar saja, tampak wajah Makdah menengok ke kamar dengan tangan menenteng teplok. Makdah lalu mengajak saya menggelar kasur di ruang depan. Sesudahnya saya tidur di samping Makdah hingga terbangun esoknya. Entah sejak kapan dan dari kejadian mana, Makdah tahu begitu saja saya tidak bisa tidur sendiri kalau lampu mati.

31 Desember 2012 (hari lahir Yahmi, suami Makdah) saatnya  kumpul keluarga

Ada satu kali saat saya sedang memijit leher Makdah (bagian kanan lehernya terasa sedikit pegal kata beliau), kami ngobrol. Ngobrol seperti ini yang bahkan dengan ibu saya sendiri belum pernah. Makdah tanya apakah saya sudah punya pacar apa belum, saya jawab belum sambil mesam mesem. Makdah ngga percaya jadi beliau tanya lagi sambil melihat ke saya, ya sekali lagi saya jawab belum karena memang belum punya pacar. Makdah tanya kenapa saya ngga cari pacar, saya jawab karena saya rasa belum saatnya punya pacar, karena kalau pacaran saya ngga bisa bebas main dengan siapa saja. Saya jelaskan juga bahwa saya malah pengennya langsung nikah, biar afdol sekalian hehe. Makdah mengangguk-angguk, lalu menyampaikan beberapa baris kalimat,

“ Ya pokoknya Makdah doakan, semoga Reni dapat suami yang bisa menyelaraskan, bisa serasi, dan menyeimbangkan Reni. Cari suami yang pinter. Jangan cuma pinter urusan dunia, tapi akhirat juga toh ini dunia ini kan sementara. Carinya yang sesuai juga dengan apa-apa yang diimpikan sama Reni. Cari suami pinter  yang sesuai dengan kita itu memang sulit, tapi ada.”

Dalam hati, saya mengamini. Ya Makdah, InsyaAllah ada :)

Satu dua kejadian membuat saya berpikir benar-benar telah menjadi bagian dari keluarga ini.

Rumah Makdah terletak hanya dua pelemparan batu dari Masjid, satu satunya Masjid yang ada di Nusa Penida. Di sebelah Masjid, tepat di depan rumah, Makdah punya warung kecil yang menjual snack, permen, dan minuman ringan. Biasanya pada pukul setengah 6 sore atau sejenak sebelum adzan isya berkumandang, warung milik Makdah dipenuhi anak-anak yang baru selesai mengaji. Di waktu-waktu tersebut dari depan rumah kerap terdengar anak-anak berteriak ,”Mbok Elooook, mau belanjaaaaaa.” Lalu saya menjawab,” Iya sebentar yaaaa.” Segera mengenakan jilbab lalu saya keluar rumah. Satu dua anak yang menatap saya terlebih dahulu lalu menanyakan dimana Mbok Elok, ada juga yang masa bodoh siapa yang menjuali yang penting mereka bisa jajan.

Atau suatu pagi, saat saya ikut Makdah ke pasar. Saya berjalan di samping Makdah, memaksa membawakan tas belanjaan beliau. Melihat cara Makdah memilih ikan segar, menawar harga. Ikut berkenalan dengan ibu-ibu, bapak-bapak di pasar (Mamaknya Lisa yang berjualan bumbu masak, atau Bapaknya Rika yang berjualan minyak kelapa khas Penida, Mamaknya Mas Alung yang berjualan sayur, ada juga Pak Haji Syafrudin yang punya toko bahan pokok, ibu ini bapak itu mas ini mbak itu). Tak jarang orang mengira saya ini calon mantunya Makdah, yang selalu dijawab dengan senyuman seraya berkata,” Ini saudara jauh.” Atau orang bilang saya penggantinya Mbok Elok.

Ya, saya pikir saya jadi pengganti Mbok Elok di rumah itu. Untuk sementara.

Makdah, Yahmi, saya, dan Ica. awalnya mau makan di tepi pantai tapi hujan jadi kami mengungsi di beranda rumah hehe

Begitulah, begitulah.
Tiga setengah bulan di rumah Makdah, belajar banyak hal. Wanita yang benar tangguh. Bagaimana tidak? Selain berperan sebagai Kepala Urusan Kesejahteran Masyarakat di Kantor Desa Toyapakeh dengan jam kerja mulai pukul 08.00 – 14.00, beliau ini melaksanakan sendiri pekerjaan rumah tangga seperti mencuci baju, menyetrika, membersihkan rumah, dan memasak setiap hari. Belum lagi, beberapa  setiap 3 hari sekali ba’da magrib hingga menjelang isya, Makdah mengajar Madrasah di Masjid.

Pernah saya tanya,” Makdah, kok Makdah masih bersedia bantu Pak Kepala Masjid ngajar di Madrasah? Kan Makdah udah sibuk sekali saya lihat suka bawa catetan-catetan dari kantor desa ke rumah.”

Lalu jawab beliau,” Makdah suka ngajar Ren, dulu Makdah sebelum jadi Kaur jadi guru. Itu di sekolah sebelah lapangan. Selama Makdah masih bisa ngerjain apa yang bisa tak kerjain, Makdah usahakan, apalagi Pak Kepala Masjid kawan baik Makdah dari SMA. Lagipula ngga enak rasanya kalo orang minta tolong, terus kita masih bisa nolong tapi ngga dilakukan. ”
Lagipula ngga enak rasanya kalo orang minta tolong, terus kita masih bisa nolong tapi ngga dilakukan.
Kalimat itu.
Selagi bisa menolong, kenapa tidak? Tulus menolong tanpa mengharap imbalan. Bukan sekedar kalimat yang tertera di buku PPKN yang kita pelajari pas SD maupun SMP, saya lihat nyata dari Makdah. Kalau mau saya sebutkan satu persatu, butuh berapa page untuk menuliskan secara detail ya? Hehehe

Makdah, Makdah.
Mungkin Makdah ngga baca tulisan ini. Tapi sungguh saya berterimakasih atas semuanya. Makdah, Yahmi, Nenek, Fajar, Mbok Elok, Mas Bukran, dan Mas Danik sudah menjadi jalan rezeki dari Allah. Sudah pasti diatur oleh Allah kenapa saya harus ketemu sama Mbok Elok saat itu, sehingga saya tinggal 3,5 bulan di rumah Makdah kemudian menunggu si karang-karang bertelur yang bahkan saya tidak tahu probabilitas keberhasilannya. Dan atas izin Allah, penelitian tugas akhir saya lancar.

Tidak bisa saya membalas seluruh kebaikan Makdah dan keluarga. Maka saya berdoa ke Allah, berdoa memohon keselamatan dunia akhirat untuk Makdah dan keluarga. Agar segala urusan-urusan dilancarkan oleh Yang Maha Berkehendak.

Ini saya tulis setelah mendapat sms dari Makdah yang berisikan ucapan selamat wisuda. Ah, ingin rasanya saya segera kembali mengunjungi Toyapakeh. Baiklah, sampai bertemu lagi segera ya, Makdah!:D



Makdah, saya, Mas Danik, Yahmi, Nadia, dan Izah.

Nb: 4 hari lalu di kosan mati lampu Makdah, listriknya konslet. Tapi ngga ada yang membawakan teplok dan mengajak saya menggelar kasur di ruang depan. Jadilah saya ngungsi ke kosan teman hehehe