Sabtu, 15 April 2017

Keukenhof.

Pada liburan easter break akhir pekan ini, saya dan teman – teman berkesempatan mengunjungi Keukenhof, taman bunga yang terdapat di Kota Lisse – Provinsi South Holland, Belanda. Perjalanan dengan peserta multi – kebangsaan ini sungguh meyenangkan. Kami menyiapkan bekal masing – masing kemudian sharing bekal saat makan siang. Dari menu rice ball, cookies tipikal Turki, kemudian mie goreng sedap yang dibuat teman dari Bangladesh, telur balado (saya bikin ini!), salad, bakwan andalan Mas Ferry, dan setumpuk wortel mentah yang dicolek ke sambel wortel jahe.

Meja paling ribut!
Sebelum mengeksplor taman, kita pakai briefing dulu dong, menghitung satu sampai sepuluh dan memperhatikan teman di sebelah kiri kita untuk ngga hilang dari pandangan. Terus kalau sudah jalan dan ada yang hilang dari pandangan kadang Pauline atau Marielle, mbak londonya, tanya ‘where is number 7?’ bukan pake nama, kocaklah wkwkwk. Sebenernya saya melihat piknik ini menjadi tampak seperti dua ibu londo yang lagi mengasuh anak anak adopsi mereka dari China, Turki, Bangladesh, dan Indonesia :’)

Photo session in the crowd
Photo by : Miah

Transportasi dan biaya masuk
Mencapai Keukenhof cukup mudah, kita dapat menggunakan transportasi umum dan kendaraan pribadi. Transportasi yang dapat digunakan ialah dengan kereta dan bus. Untuk rute kereta, stasiun akhir yang dituju ialah Stasiun Schipol Airport. Dari Stasiun Schipol, perlu berjalan sebentar saja menuju Terminal Bus Schipol. Dari terminal ini, apabila tidak ingin transfer (sekali jalan) dapat menggunakan Bus Qliner 361. Perjalanan menggunakan bus kurang lebih memakan waktu selama 45 menit, kemudian berhenti di Halte Vreewijk, Lisse. Dari halte tersebut lalu berjalan kaki menuju Keukenhof selama kurang lebih 17 menit. Sampailah di gerbang depan Keukenhof Park. Biaya total PP untuk kereta (menggunakan group ticket) ialah 7 euro dan bus kurang lebih 10 euro, jadi total sekitar 17euro. Untuk jadwal kereta dan bus dapat menyesuaikan, dapat dilihat melalui aplikasi 9292.

Apabila dibandingkan dengan transportasi umum, menggunakan kendaraan pribadi (alias nebeng teman) menjadi relatif lebih murah dan lebih cepat. Kami total bersepuluh mengendarai dua mobil berangkat sekitar pukul 10 pagi dari Wageningen. Dengan menggunakan kendaraan pribadi, kurang lebih 90 menit perjalanan kami sampai di Keukenhof. Untuk keseluruhan pengeluaran transportasi, biaya yang dikenakan per – orang yakni 8.49 euro. Lumayan sekali ya kalau dibandingkan. Jadi sungguh bersyukur kalau ada teman yang berbaik hati membolehkan untuk nebeng hehehe.




Warna warni Keukenhof
Keukenhof merupakan nama taman bunga yang terdapat di Kota Lisse, provinsi South Holland. Atraksi utama dari taman ini datang dari warna warni bunga yang ditanam di taman tersebut. Tidak hanya tulip saja, di taman ini dapat juga dijumpai bunga dari jenis seperti hyancinth, daffodil, narcissi, crocus, dan tanaman subtropis lain. Menurut website Taman Keukenhof, pengelola menanam kurang lebih tujuh juta kuntum bunga tiap tahunnya, dengan jumlah total varietas tulips. Wow! Bunga – bunga tersebut ditata dengan apik. Ada yang ditata sesuai warna, kemudian ada yang dikombinasikan. Lihat warna – warni seperti ini rasanya mata jadi segeer... menyambut exam pun terasa membahagiakan! Wkwkwkw lebay ngets.

Untuk teman – teman yang merencakan liburan ke Belanda dan tidak mau melewatkan kunjungan ke Keukenhof, perlu diketahui bahwa Taman Keukenhof tidak dibuka sepanjang tahun. Taman dibuka biasaya mulai pertengahan Maret hingga Mei, saat bunga – bunga mulai bermekaran. Biaya masuk ke taman bervariasi tergantug jumlah dan usia, informasi harga dapat diakses pada link berikut https://keukenhof.nl/en/plan-your-visit/tickets/

Sekian penjelasan singkat dari saya, semoga bermanfaat. Saya ucapkan terimakasihsekali lagi pada Pauline dan Marielle yang sudah menyusun liburan asik ke Keukenhof kali ini *pake bahasa Indo ngerti kaga ya mereka wkwkwk* daaan baiklah, selamat menikmati deretan (yang cukup panjang) foto – foto Taman Keukenhof! 

















































Rabu, 29 Maret 2017

Inovasi oleh adanya pembatasan

Di Belanda, pembuangan limbah/'waster water' oleh suatu perusahaan/perorangan ke perairan dibatasi jumlahnya oleh pemerintah. Pemerintah Belanda sangat 'strict' dalam hal ini, dipantau dan dikelola dengan rapi. 'Waste water' yang yang bersumber dari perusahaan/perseorangan , kemudian melalui 'treatment' yang dikelola oleh badan pengelola air pemerintah (water board). Pada suatu kuliah, pak dosen bahkan menyampaikan bahwa kalau waste water discharge itu melebihi dari standar yang seharusnya, maka pajaknya akan ditambah disesuaikan dengan 'waste water' yang mereka buang.



Nah, yang menarik adalah, dalam dunia per-akuakultur-an disini, atas begitu strictnya pemerintah belanda terhadap standar tersebut, maka pengusaha/pembudidaya bener bener berusaha membuat sistem sedemikian rupa, dimana mereka bisa dapat meningkatkan jumlah produksi dengan menjaga jumlah 'waste water discharge' sesuai dengan standar yang diperbolehkan. Maka kemudian berkembanglah riset2, inovasi2 untuk mengurangi polutan yang di 'discharge'. Salah satu yang sempat saya bahas oleh teman adalah tentang sedang 'in'nya penelitian kombinasi budidaya ikan yg dipadukan dng tanaman, aquaponik dan IMTA. Atau, ada juga teman sekelas yang dia tertarik di dunia bisnis perikanan, kemudian salah satu agenda dari rencana bisnisnya adalah melihat pengaruh UV terhadap aktifitas mikroorganisme pada media budidaya yang salah satunya berpengaruh pada jumlah polutan yang ada pada 'water discharge'.

Menarik ya! Hehe. Orang berlomba lomba menemukan inovasi untuk mengoptimalkan jumlah produksinya dengan meminimalisir atau setidaknya tidak menambah 'waste water discharge'. Dan saya rasa di Indonesia hal tersebut juga sudah mulai merebak, salah satunya yang sedang hits adalah inovasi alat pemberi pakan yang efektif dan efisien. Semoga di Indonesia juga semakin banyak lagi inovasi inovasi yang hadir untuk mengoptimalkan kegiatan budidaya, yang juga benar benar mempertimbangkan sisi ke-ramahlingkungan-nya. Maju maju maju per-akuakultur-an Indonesia!

Rabu, 08 Maret 2017

StartHub Wageningen

Sudah sejak 5 bulan lalu sebenarnya tau tentang komunitas ini, tapi sungguh baru hari ini yang bener bener mengumpulkan niat dan berkunjung juga akhirnya ke kantor StartHub. Rasa 'harus banget' untuk segera ke starthub sebenernya muncul karena dua minggu lalu Kadek Agus danAndriza sharing lumayan ribetnya perihal urusan pengiriman produk ke Jerman, pengiriman pertama kami, berpartner dengan masbro Gentyana (Alhamdulillaah mohon doa ya teman teman), yang sebenarnya ngga besar kuantitasnya, namun sebagai pemula lumayan juga bingang bingungnya disana sini. Gapapa, sambil belajar ya gaes hehe. Jadi untuk lebih paham tentang regulasi keluar masuk barang di EU sampailah saya di starthub sore ini demi mencoba mencari wangsit hehe



Sesuai dengan meeting appointment via email, saya sore tadi bertemu dengan Stijn de Vries, studentboard chairman of starthub wageningen. Saya bertanya terkait membership serta kegiatan apa saja yang dilakukan di organisasi tersebut. Dari penjelasan yang diberikan oleh Stijn... wow! menarik banget! baik dari project project/bisnis yang sedang dikembangkan maupun kegiatan kegiatan yang dilaksanakan di sana. Fasilitas yang ditawarkan juga ketje sekalih, dan agar lebih optimal mengakses fasilitasnya disarankan untuk menjadi anggota. Biaya pendaftaran untuk menjadi member adalah 25 euro per tahunnya. Setelah menjadi member kita mendapatkan akses untuk coaching business serta workshop yang disediakan secara gratis ( ga deng, dengan membayar 25 euro setahun tadi itu hehe)

Ada juga program mentorship dimana kita bisa mendapat mentor untuk diskusi perkembangan ide/ bisnis yang dijalankan. Selain itu, pada setiap rabu, kalo tidak salah dari pukul 13.00-17.00 ada partner partner yang khusus dihadirkan, dari rabobank, konsultan akuntansi, perusahaan investasi, serta dari lembaga business coaching dimana kita dapat melakukan konsultasi terkait perbankan, investasi dan lain lain. Wow wow wow bets ya!

Alhamdulillaah, rasanya seneng sekali sore tadi dengan informasi yang didapat. In short, cant wait for the upcoming workshops and coaching sessions. Yuuk teman teman yang tertarik gabung juga. Semoga informasinya bermanfaat :)

Sabtu, 18 Februari 2017

Cakrawala Perkartunan ala Naomi


Di kereta, perjalanan menuju Leiden.

Reni (R) : Parah banget emang aku gabisa nonton film series. Kaya GoT ga sengaja nonton sebiji filmnya, keterusan GoT 6 series aku abisin dalam 3 hari. Gabisa berenti kalo belom selesai filmnya.

Naomi (N) : Kok gitu banget sih Kak.

R : Gatau nih, parah emang. Semacam itu, terus science - fiction, gitu gitu menarik sih. Eh, emang kamu sukanya film apa Naomi?

N : Hmm. Apa ya.. Film action kak, kaya kungfu kungfu gitu.

R : Kaya apa e, Jacky chan? Jet li?

N : Bukaan kak, ini lho.. kungfu panda

R : Lhah itu mah kartun bukan action wkwkwk. Yang lain gitu ga ada?

N : Ada sih kak, yang rmatis gitu, yang romance romance

R : Apa filmnya?

N : Up. Hahahaha.

R : ((jegarrrr)) lhah kuwi mah kartun meneh wkwkwk. Di dunia perfilm-anmu kayanya buat film kartun, genus nya kartun terus spesiesnya ada comedi, romantic..


N : Eh eh ada deng kak, ada yang film thriller thriller gituu

R : Waa aku juga suka thriller, tapi kalo thriller yang hantu kudu bareng temen nontonnya hahaha. Thrillernya yang mana naomi?

N : Minion kak. Atau itu lho kak yang kaya perang saudara, frozen.

R : Whaatt?? N : Aku tu kak, kalo nonton film yang perang berdarah darah, kaya Narnia gitu, udah ngga tahan liatnya.. .

JEGGAAARR!!!

Oke, fine. Bhay naomi!

Selasa, 07 Februari 2017

Kabar dari Papua.

Pagi ini saya menerima pesan elektronik dari Mba Niken, kami 'berbincang' singkat. Mba Niken mengabarkan bahwa mama-mama di Desa Pam, Kep. Raja Ampat, peserta pelatihan pembuatan sabun Juni 2016 lalu sudah lancar mengerjakan proses produksi, beberapa saja yang masih perlu dipandu.

Dari kegiatan penjualan yang dilakukan, mama - mama sudah dapat memutar uang secara mandiri untuk keperluan produksi minyak kelapa, soda api, serta insentif tenaga kerja, sementara untuk brosur dan pembuatan label masih disupport oleh CII, Conservation International Indonesia. Komandan produksi terpilih, Mama Selin, bersama mama - mama lain mengkoordinasikan rantai pasok bahan dan distribusi produk. Perlahan, proses kemandirian mulai terbentuk. Alhamdulillah, Alhamdulillaah, mendengar ini rasanya sungguh sungguh membahagiakan :')

Saya kemudian teringat hari terakhir sebelum esoknya meninggalkan Desa Pam. Pada penutupan kegiatan pelatihan, Om Kris Tebu meminta saya (dan rekan lain) untuk menyampaikan pesan dan kesan selama kegiatan pelatihan. Yang terjadi adalah sebelum berkata - kata saya sudah mewek beringus. Mewek plus ingusan di depan mama - mama. Dasar reni anak gampang baper wkwkwk. Malu sekali, tapi yah, bagaimana lagi, Papua dan masyarakatnya terlanjur menempati sebagian hati saya. Rasanya saat itu belum siap meninggalkan Desa Pam, atas segala romantisme yang diciptakannya.

Dear Mbak Niken, selamat kembali menikmati Raja Ampat. Selamat mengeksplor bahan bahan alam yang dapat digunakan untuk pengembangan produk! Semoga lancar segala kegiatan dan sampaikan salamku (dan udin dan agus) untuk mama - mama, untuk semuanya, juga salam tos untuk Pak Ronald dan Kak Nyong *highfive!*

Daaaan, semoga aku (dan udin dan agus) bisa berkunjung lagi ke sana :) *kudu banget ada udin dan agusnya wkwkwk*

---
Sampai jumpa lagi segera, cintaku, Indonesia.



Minggu, 11 Desember 2016

Maison Bolero: Sinterklaas Dinner

“How you can survive without alcohol?” Simon mengerutkan kening, bertanya pada saya. Saya cuma meringis, terus jawab “If I can survive by drinking fresh water, why I need alcohol?” Dia menampakkan wajah ‘hmm, begitu ya, baiklah’ lalu beranjak, lanjut joget – joget. Saya kemudian memenuhi gelas saya yang sudah setengah kosong, mengalirinya dengan air ledeng. Di Belanda, air putih bisa diminum langsung dari ledeng. Asik ya hehe.

---

Saat Annual Introduction Days (AID), ospek saat masuk di universitas, teman di kelompok saya bilang bahwa dutch identik sekali dengan dua hal; minum dan party. Dan memang betul, setelah saya amat – amati hal tersebut memang begitu adanya. Pada empat bulan masa perkuliahan ini, teman – teman di kelas banyak sekali yang menggaungkan ‘nanti ada party di sini loh’, ‘mau ikut party ini ngga?’, atau ‘party yuuk habis ujian selesai’. Sejatinya karena saya bukan anak yang bisa tahan melek malam sampai pagi, dan waktu ternyata memang habis untuk men-translate ulang pelajaran di kelas, jadi saya belum pernah ikut party apapun. Sebenernya saya penasaran juga, kenapa bisa sih orang party sampe pagi party dan ngapain aja selama itu. Kemudian datang kesempatan buat ikut party, lebih tepatnya sih ngga bisa kabur dari party ini, karena partynya anak sekoridor di flat saya. Yah sudah, sekali ini sekalian mau tau, ngapain sih party itu. 


---

Sembilan Desember malam ini semua mendadak berpakaian rapi jali. Judul dari acara malam ini adalah Sinterklaas dinner, yang merupakan acara makan malam tahunan di Bulan Desember bagi orang belanda pada umumnya. Cerita teman saya, tradisi ini ada oleh kisah sinterklaas yang datang pada tiap tanggal 5 desember malam untuk memberikan hadiah pada anak – anak. Walaupun pada akhirnya mereka saat sudah lebih besar tau hadiah itu dari orang tua mereka, ‘sedih sih dulu pas tau ternyata bukan dari sinterklaas’ kata teman saya. Lucu juga ini mas bule udah segede begini excited banget cerita tentang sinterklaas dan bilang ngerasa sedih pas tau ternyata hadiah yang diterima adalah dari orang tuanya hehehe. Oya, dan kenapa makan malam ini adalah tanggal 9, karena tanggal 5 jatuh di hari senin dan sepertinya semua sedang sibuk kemudian dipindahlah acara menjadi tanggal 9 Desember, jumat malam. 



Makan malam kali ini terasa begitu formal. Meja meja disusun rapih memanjang, taplak dibentangkan. Lilin – lilin putih berdiri menyala di atas tatakan. Piring, garpu, sendok, pisau untuk masing – masing orang (yang sepanjang makanan tersaji saya pake tangan dan sendok aja hahaha) Di sebelah piring terdapat kertas bertuliskan menu makan malam kali ini. Saya pandang – pandangi nama namanya, ada kata – kata yang memakai bahasa perancis, dan ternyata disampaikan oleh teman di sebelah saya, memang menu ini awalnya merupakan menu perancis yang sudah diadaptasikan oleh makanan belanda, diantaranya yang tertulis ada Soup a la citroulle, Hachee della volonta. Saya dan satu orang muslim lain di koridor dari Saudi Arabia, Alhamdulillah tidak perlu khawatir, karena para chef yang menyediakan makanan ini sudah mempersiapkan makanan khusus bagi kami yang muslim, dan satu lagi teman dari Jerman yang vegan.  

Eet smakelijk! Enjoy your meal!

Di acara makan malam ini masing – masing dari kami mempersiapkan hadiah senilai 5 Euro serta sebuah surat untuk diberikan ke satu orang lain. Pura – puranya itu adalah hadiah dan surat dari sinterklaas, gitu ceritanya hehehe. Setiap selesai menyantap satu menu, kami mengambil dua hadiah. Kemudian orang yang namanya terdapat di hadiah tersebut naik di kursinya, membacakan surat yang diterima kemudian membuka hadiah yang didapat. egitu berselang - seling. Dan ternyata memakan waktu cukup lama, makan malam yang dimulai pada pukul 19.00 berakhir pukul 23.30. Lama bangeeet, tahun tahun sebelumnya katanya ngga selama ini padahal hehe. Entahlah, mungkin karena menunya banyak, jadi perlu istirahat dulu, nunggu makanan turun, baru lanjut ke menu berikut lagi, lalu ada dua sesi ngerokok buat yang merasa perlu merokok, makan malam terlama sejauh ini sih hehe

Read the poem

Poem and gifts from sinterklaas
Pukul 11.30 makan malam akhirnya selesai dengan brownies+pisang iris+es krim vanilla sebagai makanan penutup. Setelah itu piring-piring, sendok, semua alat makan dikumpulkan. Meja – meja didorong ke tepi ruangan. Musik disetel. Daaan, inilah saatnyaa..party!


Ruizhe, where are you?

Ceciwi di koridor

Hmm.
Ternyata party orang – orang tidak se-liar yang saya kira ^^a saya pikir awalnya orang – orang akan mabuk berat sampe keliyengan macam orang yang lagi memakai jurus mabuk, nabrak – nabrak. Pada dasarnya isi dari party adalah ngobrol – ngobrol dengan backsound musik jedag jedug, sambil merokok sambil minum minum, sambil joget – joget juga. Saya memilih berdiri setengah bersandar ke meja, menggenggam gelas yang berulang diisi air ledeng. Ngga bisa aja rasanya mau ikut joget. Berasa badan rada kaku buat joget joget wkwkwk. Disinilah kemudian ngobrol ngobrol segala macam hal; mulai dari kenapa sih ngga minum alcohol, kenapa orang Indonesia selalu gembira, temen saya yang bilang menurut pengamatannya saya berasal dari muslim konservatif, tentang temen saya yang tidak bisa menerima bahwa alkohol bukan sesuatu yang bisa dikaitkan dengan hal yang religius, terus membahas jenis jenis ‘weed’ yang legal dan dibolehkan di Belanda, temen sekoridor yang ternyata suka ngerokok sambil naruh ‘weed’ di rokoknya, tentang les bahasa prancis, tentang saya yang menurut teman pengucapan bahasa perancisnya sungguh cukup buruk (bukan cukup baik, duh sedih), obrolan lanjutan tentang kisah sinterklaas, tentang jenis rokok di Belanda, kemudian denger curhatan temen Jerman saya yang merasa masih kurang nyambung sama leluconnya orang Belanda, tentang temen yang kurang puas sama mata kuliah minor yang diambil di universitas lain, sampe ngobrolin tentang peristiwa bunuh diri di kalangan pelajar di sini. Iya cuy, ngobrol tentang peristiwa bunuh diri di beberapa flat di sini. Sungguh obrolan yang beragam. Sampai waktu menunjukkan pukul 02.00 dan saya sudah tidak bisa lagi menahan kelopak mata untuk melek, saya pamit undur diri. 


Fiuh.
Sampe di kamar, saya menghela nafas. Dari obrolan – obrolan, saya disadarkan lagi dan lagi  bahwa betapa Allah menciptakan makhluk bersuku – suku. Bervariasi. Dengan berbagai bahasa, bermacam rupa. Berbeda – beda. MashaaAllah.

Ada rasa senang bisa mengenal lebih dekat teman – teman di koridor. Ada rasa kepikiran, terutama ketika menjawab pertanyaan – pertanyaan yang terkait dengan agama. Kalo merunut lagi jawaban yang disampaikan, kadang suka jadi kepikiran ‘haduh kudunya tadi jawabnya begini’ ‘kurang ngejelasin di bagian itu’ semacam begitulah. Atau kadang takut juga perkataan saya sebagai muslim apa menyinggung atau tidak. Buat saya, perlu mikir banget untuk menghadapi pertanyaan – pertanyaan yang berkaitan dengan hukum – hukum agama. Harus cari cara sedemikian rupa yang sebisa mungkin dapat diterima oleh logika mereka. Kalau sudah ada pertanyaan – pertanyaan yang menyerempet tentang agama saya cuman berdoa semoga dalam setiap kalimat yang terucap selalu dalam bimbingan Allah, Semoga Allah juga mudahkan mereka untuk menerima jawaban, bukakan hati. Dan Alhamdulillah, sebenernya pertanyaan – pertanyaan ini juga yang membuat saya menjadi harus lebih mencari tahu benar – benar alasan mengapa dalam hukum agama begini mengapa begitu. 


----

Pada akhirnya saya ikut party. Yeay! Sekali dua kali bolehlah ya *sungkembapakibu*. Untuk temen temen londo yang emang bener - bener deket. Tapi pada dasarnya saya sadar diri bahwa emang saya tidak diciptakan untuk ikut party macam begini, lha wong jam 11 malem aja mata rasanya udah begitu ngantuk tuk wkwkwk. Agaknya dicukupkan dulu pengalaman menarik dari negoro londo ini, dan sebagai penutup, saya tuliskan surat dari sinterklaas, ehm, dari teman koridor :')

Dear Raini,
Welcome to The Netherlands
I hope you’ve made a lot of friends
Sinterklaas is very proud that you came here all the way
And he hopes that you are enjoying every day

Sinterklaas knows that you are running a blog on the internet
Where you are sell soap at
Sinterklaas likes it very much
It is not something he sees a lot among the dutch

Your wish list wasn’t very long
But that is not necessarily wrong
You only wrote down your dreams for the future
I know they’ll come true, for sure

So in few years it will be a lecturer Raini
or in aquaculture is where you will be
The present is something typical dutch
I hope you like it very much

Love,
Sinterklaas

*All pictures taken by Simon Goddek, except the menu and gift pictures, by me. 

Sabtu, 19 November 2016

My dearest, Dek Ratri (2)

If somebody asks how I sum up my sister in three words, so it would be; mature, persistent, generous. Though medical history declared I was born eleven months prior to her, at the time when night came and I had a kind of me-time for exploring things blew up in my mind, in the silence of my heart I, somehow, believe she should have been the older one. Not in a one or two occasions, I sadly laugh at the childish part of me when comparing myself to her, admiring on how she makes decision, the way she deals with complicated situations.

Well, one said that sister is a friend and defender – a listener, a conspirator, a counsellor and a sharer of not only delights but also sorrows. Then, she actually is. My dearest Dek Ratri, thanks a million for your presence, always, for your countless helps to ‘maintain’ my ‘buoyancy’, for always encouraging and supporting me. Cant wait to see you here. Yes, here. See you when I see you!


---
Dek Ratri, bagi saya, ibarat Arai :’)

Edensor
Suatu ketika, pada bulan puasa, kami harus pulang karena ayahku sakit. Tak ada kendaraan yang dapat ditumpangi. Kami berjalan kaki, tiga puluh kilometer dari kota tempat SMA kami berada. Matahari membara, tepat di atas kepala. Panas menjerang tanpa ampun, aspal meleleh. Perutku kosong, kerongkongan kering. Aku melangkah seperti rangka kayu yang reyot. Pandangan berkunang-kunang. Kami kehausan dan menderita dehidrasi, bahkan sudah tak lagi berkeringat. Aku tak sanggup, waktu melewati danau aku ingin membatalkan puasaku.

“Jangan,” sergah Arai tersengal-sengal. Ia membopongku. Kami melangkah terseret-seret. Aku tak mampu bertahan. Kembali melewati danau, aku mendesak ingin minum.

“Jangan,” sergah Arai.

“Jangan, Tonto, jangan menyerah.”

Arai menaikkan tubuhku ke atas punggungnya. Ia memikulku. Langkahnya limbung, terseok-seok berkilo-kilometer. Ia istirahat sebentar, lalu memikulku lagi. Napasnya meregang satu per satu, hidungnya mendengus-dengus seperti hewan disembelih. Tumitnya mengucurkan darah karena terjepit jalinan kasar sepatu karet ban mobil. Ia melangkah terus, terhuyung-huyung. Tak sedikit pun ia mau menyerah. Sampai di rumah, aku terkapar tak berdaya. Arai tersenyum. Aku menatap matanya dalam-dalam.

Tiba-tiba, Prancis rasanya dekat saja.