Minggu, 18 September 2016

Intro.

Pada hari – hari mendekati keberangkatan saya ke Belanda, saya jadi mudah baper.  Rasanya selalu jadi mellow kalau mengingat segala sesuatu hal tentang keluarga, tentang sahabat, orang- orang terdekat di Nusa Penida. Baper saya memuncak pada dua malam menuju tanggal penerbangan. Belum selesai melakukan cek barang bawaan, saya keluar dari kamar, menghampiri bapak dan ibu yang sedang berbincang di ruang tamu.

“Pak, aku kok rodo takut yo mau sekolah lagi. Kenapa ya ini. Bapak ibu nanti kangen sama aku ngga?” saya susah payah menahan biar baper di hati ngga jadi air mata.

“ Lho kok malah wedi kenopo. Kan Mbak Reni yang minta ke Allah, terus Alhamdulillah sekarang dikabulkan gitu tho,” kata bapak.
“Tapi kan pak, aku ki kan takut nanti kalo kangen kangen tu terus gimana, kan aku jauh dari rumah. Kalo di Bandung apa di Bali kan aku bisa pulang, atau bapak ibu yang ndatengin aku,” air mata tumpah ruah. Sekejap jadi alah nangis sesenggukan. Ya Allah, belum saja berangkat tapi saya sudah terbayang dulu bagaimana nanti rasanya menahan kangen pada bapak ibu adek, pada rumah, pada orang – orang terdekat. Meski hanya dua tahun, pikir saya, tetep aja belanda ya belanda, jauh.

“Lhoo ya jangan nangis tho,” bapak malah menertawakan saya, kemudian dengan senyum khasnya bapak bilang ”Kan ini kaya dulu mbak reni ke Bandung, cari kosan, sekolah cari ilmu. Sekarang di Belanda, lhak sama sama depannya ‘B’ hehehe. Coba diliat lagi niatnya, ini kan salah satu jembatan buat cita – citanya mbak reni tho, masuk list doa doa yang dititipin ke bapak ibu pas haji kemaren. Sudah diikhtiarkan, bapak ibu sudah doakan, kemudian sama Allah dikabulkan, Alhamdulillah. Sopo sing ra seneng nek dongane dikabulkan Gusti Allah. Wes, teko mantep tinggal dijalani, diseriusi. Ada Allah, yo ndak usah takut. Dan jangan malah sedih, nek mbak reni sedih bapak ibu yo jadi sedih. Dah, diterusin le siap siap”

Saya renungi pesan bapak. Rasanya hati jadi lebih adem. Lebih lega. Lebih ikhlas. Dari sini saya jadi teringat pada satu bagian di buku Alchemist, berkisah tentang perjalanan seorang pemuda yang ingin menggapai mimpi, tertulis pada salah satu halamannya;

In his pursuit of the dream, he was being constantly subjected to tests of his persistence and courage. So he could not be hasty, nor impatient. If he pushed forward impulsively, he would fail to see the signs and omens left by God along his path. [The Alchemist, page 89]

Courage. Persistence. Patient.

Saya coba flashback, bukan proses yang pendek untuk berada pada titik ini. Yaa Rabb, karuniakan keberanian, kemampuan, kelembutan hati, juga rasa syukur yang luas dalam, agar terhindar dari perasaan – perasaan yang membuat lupa apa yang menjadi tujuan utama; bahwa menuntut ilmu adalah jalan menuju surga – Mu.


Tepat malam ini, satu purnama sudah saya di Wageningen, Belanda. Ada waktu – waktu ketika rasanya begitu kangeen sekali sama bapak, ibu, adek. Kangen yang (ternyata) tidak bisa sepenuhnya diobati dengan komunikasi via telfon atau video – call. Di saat – saat seperti ini saya ingat pesan dari sahabat, bahwa jalan terbaik menyampaikan rindu adalah menyelipkannya pada doa – doa. Agar mengangkasa. Agar disampaikan dengan cara terindah oleh Sang Pemilik Hati.



Terimakasih ya bapak, ibu, adek, untuk selalu saling mengingatkan, mendukung, melindungi, dan melengkapi. Semoga Allah ridha untuk tidak hanya mempertemukan mbak reni dengan bapak, ibu, adek ini di dunia, tapi juga di akhirat. Pada kehidupan yang hakiki. Aamiin :’)

Minggu, 03 April 2016

Nusa Berdaya.

Sejatinya blog ini dibuat atas saran sahabat, Silvia Rahmy, karena dia melihat betapa saya terperangkap pada kebahagiaan masa lalu *tsaah* Masi inget ya sil malam – malam kita di lab, kamu bekerja dengan cawan petri lalu aku sibuk melihat – lihat, menggumam, menceritakan (hingga kamu mungkin bosan) bagaimana aku menghabiskan waktu 4 bulan di Toyapakeh, salah satu kampung pesisir yang ada di Pulau Nusa Penida; a memorably  memento.

Tidak terasa sudah 4 tahun berlalu sejak kali pertama menginjakkan kaki di Toyapakeh. Sejak itu juga merasa diri ini menjadi terlalu obsesif kompulsif dengan Nusa Penida hihi. Dan detik ini, ketika saya dalam proses menguraikan kenangan lain yang tertaut dengan desa itu, hati saya masih saja berdebar tak seperti biasanya *ahlebay*

Empat taun lalu bareng adik adik di Toyapakeh :')

Penelitian terkait pemijahan terumbu karang di Perairan Toyapakeh, Nusa Penida, mengantarkan saya pada kelulusan sarjana pada April 2013. Tertarik dengan dunia kelautan, kemudian saya memutuskan bekerja pada salah satu LSM (NGO) di Bali, yang memiliki fokus terhadap kegiatan konservasi terumbu karang. Di sinilah saya kemudian mengenal selain metode ilmiah untuk pengambilan data, juga softskill bekerja dengan masyarakat, bagaimana membangun kerjasama dengan stakeholder  di wilayah pesisir dan laut – pihak universitas, peneliti, perangkat pemerintahan, pemilik hotel dan resort, nelayan. Atas pengamatan selama bekerja, saya dihadapkan pada fakta bahwa sisi ekonomi dan pendidikan masih menjadi tantangan utama dalam pengelolaan pesisir dan laut secara berkelanjutan.

Pemijahan Acropora sp
Pada kesempatan – kesempatan bertemu dengan kelompok masyarakat untuk melaksanakan program, tak jarang saya merasa terpentok dengan permasalahan pendanaan. Berbagi cerita dengan teman yang juga bekerja di bidang yang sama, tantangannya tidak jauh berbeda. Ngga bisa begini karena ngga cukup dana. Ngga bisa segera melakukan itu karena ngga ada duit. Ngga bisa jalan, masyarakatnya kurang greget karena kegiatan yang dilakukan bukan kegiatan yang menghasilkan profit, kemudian program mandeg. Bubar jalan. Sedih :(

Saya menyadari bahwa kegiatan pelestarian lingkungan, dalam wujud apapun itu, perlu sekali dilakukan. Tapi kalau sedang kesel keselnya dengan realita yang ada saya suka menggerutu sendiri ‘ya gimana orang mau mikirin ngejaga lingkungannya untuk tetap lestari sedangkan bagi si orang itu untuk melangsungkan hidupnya masih kesulitan, untuk sekedar makan sehari hari saja masih kalang kabut. Perut keroncongan dijejelin ini itu. Mau coba ngomongin tentang konservasi saja masyarakat jadi malah (ada yang) antipati huft.’

Satu hal yang terpikir, yang kemudian menurut saya urgent untuk dimasukkan pada daftar hal - hal yang kudu dilakukan dalam hidup; harus mengelola bisnis yang dijalankan bersama masyarakat, dimana bisnis tersebut dikorelasikan dengan kegiatan pendidikan. 

Setelah 1 tahun 10 bulan bekerja, April 2015 lalu saya resign. Alasan prioritas saya mengundurkan diri utamanya adalah untuk persiapan melanjutkan studi di akhir tahun 2016 ini. Tapi ternyata, bersamaan dengan persiapan melanjutkan studi, hidup membawakan saya kesempatan untuk membangun bisnis yang dikelola bersama masyarakat.

Inisiatif ini berawal dari pertanyaan yang diajukan seorang teman, Kadek Agus Wardana, tentang pemanfaatan rumput laut di daerah asalnya yang kurang optimal. Kadek Agus adalah pemuda asal Desa Suana, salah satu desa penghasil rumput laut terbesar yang terletak di pesisir timur Pulau Nusa Penida. Agus menyampaikan bahwa penjualan rumput laut sejauh ini masih berupa raw material. Rumput laut setelah dipanen kemudian dijemur, setelah mencapai fase kering kawat lalu dijual kepada pengepul.

Selain Kadek Agus, ada Muhammad Andriza Syarifudin. Kami bertiga sebenernya sih semacam reuni kecil dari kegiatan volunteer yang pernah kami ikuti pada akhir tahun 2013 hehe. Saat itu ada kegiatan pembuatan perpustakaan di Desa Batukandik, di Pulau Nusa Penida. Sempat ngobrol – ngobrol bertiga sebelumnya, tentang rumput laut dan sebagainya makanya jadi nyambung.

Tim Inti Nusa Berdaya  *gayabocah*
Kegiatan volunteer di Desa Batukandik sebelum kami membentuk tim 
Singkat cerita, berbekal tekad kami membangun tim yang diberi nama Nusa Berdaya. Dengan latar belakang senada, kami sepakat mengembangkan Nusa Berdaya dengan konsep social business, dimana kami bekerja bersama para orangtua untuk membantu pemenuhan kebutuhan secara ekonomi serta melakukan kegiatan bersama anak – anak dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan. Kami mengadakan beberapa rapat kecil membahas tentang visi dan misi, juga memformulasikan action pertama kami. 

Atas beberapa coba – coba yang kami lakukan; jual beli kerapu hingga rencana membuat keramba, bekerjasama untuk membuat fillet tuna dan baramundi, pengolahan rumput laut menjadi permen jelly dan dodol; kami anggap belum dapat diwujudkan saat ini karena berbagai pertimbangan. Sempat pusing juga menentukan bisnis apa yang pas untuk memulai. Kami kemudian mencoba lebih memperhatikan kepada apa yang masing – masing dari kami miliki, jaringan, ilmu, softskill, dan sebagainya, melihat kebutuhan serta ketersediaan pasar. 

Dari proses kontemplasi singkat dan beberapa pertimbangan, sebagai aksi pertama bersama di Nusa Berdaya kami memproduksi nusapenida natural soap, yakni sabun alami dari bahan – bahan yang tersedia di sekitar pulau. Kami mentargetkan produk tersebut menjadi souvenir khas dari Nusa Penida. Produk ini menjadi motor untuk membangun mimpi kami bersama dalam mewujudkan masyarakat pesisir yang sejahtera, mandiri dan memiliki daya saing. Masyarakat yang dapat mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, mampu melaksanakan kegiatan pengolahan produk dari hulu ke hilir.

Nusa Penida Natural Tropical Soap
Dalam membangun social business ini kami bekerjasama dengan beberapa kelompok masyarakat. Untuk mensuplai raw material, kami bekerjasama dengan beberapa petani dari berbagai desa di pulau. Bahan dasar yang kami dapatkan dari para petani diantaranya rumput laut, kelapa, kunyit, dan lidah buaya. Sedangkan untuk kegiatan pengolahan sabun kami bekerjasama dengan ibu – ibu pkk di Desa Toyapakeh. Selain akses pasar terbesar memang melalui Toyapakeh, saya pribadi sudah memiliki emotional relationship yang cukup baik dengan masyarakat untuk memulai kegiatan di desa tersebut.

Supply rumput laut dari petani di Desa Suana
Mek Guna yang mensuplai kunyit

Pelatihan pembuatan sabun alami bersama ibu ibu pkk Desa Toyapakeh
Tidak mudah (ternyata) hehehe. Proses ‘membuka jalan’ yang tentu menjadi tantangan utama untuk membangun bisnis. Galau, gundah, gulana, semangat naik – turun, berusaha untuk tetap naik naik naik mendaki. Hingga satu titik penting yang memberikan kemajuan bagi kami, yakni saat ikut serta mengisi booth pada acara Festival Nusa Penida. Saat melakukan tes pasar di acara tersebut kami bertemu dengan wisatawan asal Australia, Samantha, yang menyatakan ketertarikannya terhadap produk kami. Samantha kemudian memperkenalkan kami dengan beberapa bule yang tinggal di pulau. Alhamdulillah, setelah itu perlahan jalan mulai terbuka, pasar menjadi lebih nyata untuk kami raih.

Inilah kami. Masih dalam perjuangan untuk mendaki. Bedanya dengan enam bulan lalu adalah, kami bersyukur saat ini memiliki tim yang sudah jauh lebih lengkap dan berbahagia. Tiap harinya meski selalu saja ada yang comel ini itu, kelupaan ini itu, luput ini itu, meski dengan kesel keselan yang ada hihi tapi semoga seluruh anggota tim selalu kompak semangat untuk terus maju, tumbuh, dan berkambang, Nusa Berdaya dan ibu – ibu pkk :’)

Almost full team 
Dalam  enam bulan keberjalanan, tim didukung oleh berbagai pihak. Dukungan utama, terbesar adalah dari Allah SWT. Selalu saja, selaluu ada yang namanya kebetulan kebenaran di tiap - tiap hal yang dijalani. Kemudian bagi saya pribadi, dukungan datang dari dari bapak dan ibu yang memberi izin atas pilihan ini. Bagi tim, dukungan utama datang dari Yayasan Dompet Dhuafa, yang telah mempercayakan kami untuk mengelola dana hibah dari Grant Making Program 2015, memberikan training sebagai tenaga pendamping serta dukungan lain yang membantu perkembangan Nusa Berdaya. Dukungan dari Pak Perbekel (Lurah) Desa Toyapakeh, ibu – ibu pkk khususnya serta masyarakat desa pada umumnya. Seneng aja saya kalau di jalan disapa lalu ditanya tentang perkembangan pembuatan sabun hihi. Kami juga sangat bersyukur atas dukungan yang diberikan oleh Pak Mike Appleton, Altaire Cambata, Jacquie Scull, serta Liza Rae Dawn. Banyak ide – ide baru yang terbangun dari obrolan – obrolan bersama mereka. Seperti ide melaksanakan workshop pembuatan sabun bersama dengan wisatawan di Penida Collada, warung makan ala bule milik Liza. Atau distribusi produk di beberapa tempat di pulau, salah satunya ialah ke The Gallery Nusa Penida milik Pak Mike. Beliau adalah orang pertama yang menghubungi kami, meminta produk kami mengisi gallerynya. Pak Mike selalu berkata bahwa dia menjual produk kami dengan trust, kepercayaan. Ya Allah, saya jadi suka terharuu sudah diatur sedemikian rupa dipertemukan dengan orang orang ini :’)

Kunjungan wisatawan ke Rumah Produksi
Workshop di Penida Collada
Saya membantu menterjemahkan  penjelasan ibu ibu pkk pada peserta

Nusa Penida Soap di Gallery Pak Mike

Bermacam sudah cerita dalam proses perkembangan Nusa Berdaya yang masih seumur jagung ini dan saya menantikan kejutan – kejutan lain kedepannya :’) kalau mau dituliskan dalam satu artikel akan terlalu panjaang. Maka sekian dulu saja tulisan tentang Nusa Berdaya, semogaa saya dihindarkan dari rasa malas untuk menyambung tulisan ini hehe 

Anyway, silakan berkunjung ke Rumah Produksi kami di Desa Toyapakeh – Nusa Penida. Jangan sungkan mampir yaa kalau sedang dolan ke Bali atau berada di sekitar Nusa Penida! :)




Rabb, 
bila ini dapat memberikan sebesar – besar manfaat
mohon Engkau selalu bukakan jalan
dan teguhkan

I am following the omens. 

Selasa, 09 Februari 2016

The maps


I remember in detail of how then I owned these maps.

It was at the end of 2013, when I was in a christmas and a new year holiday visiting my hometown, Magelang. I went to a small bookstore as being suggested by a friend of mine, Ustica, buying a map of Indonesia and a world map. Since after that, I dropped marks to several places, cities, and countries for my future visit on it.

She said vigorously that time,”I just buy it anyway, you too please. Let us start arranging our future europe trip, even just from purchasing the map of it in advance. What can we do the next, we will think about it afterwards.”

The greatest inspiration to us came from the Indonesian Film of 99 Lights in European Sky – 99 Cahaya di Langit Eropa. Recalling back the time I saw it, I ended the film with the glowing eyes, how I then felt a beautiful pride and a sadness at the same time knowing the historical development of Islam in Europe; Turkey, France, Napoleon Bonaparte, Louvre Museum, Notre Dame Church.

I decided; I have to visit Europe. Someday. No matter how.

I keep those map well along with the I-am-not-quite-certain-to-be-materialized-desire for the last two years. Once I could be a girl with the glazed eyes if thinking how I eager to experience  Islam in Europe. As time goes by, the desire evolves to be more than that. Modifying my europe-trip-dream to also learning aquaculture science, an appeared thought after I worked in a marine NGO. And other following modified dreams; building a social enterprise, having a big culture of sea cucumber, getting closer and closer to coastal people.

And after the ups and downs of chasing those all, in the end of 2015 an opportunity was miraculously blowed away to me. All praise to Allah, Alhamdulillah, Allahu Akbar! I got a ticket to continue my master study to europe, a full scholarship program from the government of Indonesia.

Dream big. Start small.

I am, so as the many many other people, the biggest admirer of God’s work. He, by the unseen hand, build a wonderful path connecting million sons of adam to their dreams. He plays on his own rules, puts wisdoms on every single occurence, either in a good one or a bad one, confers upon us a magical power to face the bittersweet of life.

Had a dream
Keep it in our deepest heart
Muster our best effort
Have a good prejudice
Let the universe leads us to it

I always believe what I want to believe. You also, can believe what you want to believe, anyway.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kanal-kanal mimpi bukit nusa

Cerita satu.
7 September 2013.

Kesekian kalinya. Akan tetapi, kesempatan ini sedang tidak untuk beramah tanah dengan bibir pantai dengan bulir bulir pasir putih. Tidak untuk menyesap secangkir teh melati hangat di Warung Restu duduk manis menyambut keemasan di baratnya laut.

Pagi ini setidaknya peluh menjadi pertanda ada kalori yang terbakar ketika kami akhirnya mencapai sekolah. Lumayan. Setelah kurang lebih berjalan kaki 30-45 menit dari rumah warga maka ini dia; SD Negeri 4 Batukandik


Kakak-kakak ne sube tekee!” teriak seorang anak. Setengah berlari menuju kerumunan anak-anak berseragam merah putih. (Kakak kakaknya sudah dataang!)

Perbukitan nusa pertengahan September menjelma menjadi bukit yang malam-malamnya berhembus angin berhawa dingin, sementara pergeseran waktu menjadi siang intensitas cahaya matahari menguat menstimulus kelenjar keringat mensekresikan peluh melalui pori-pori kulit. Seperti siang ini. Sedang tak mau berpanas panas lagi, jadilah kemudian kami berkerumun di bawah pohon rindang.

Eni, Fanbul, dan Udin mulai membuka obrolan dengan adik-adik

Perkenalan dimulai. Kami mau berkenalan dengan menari nari. Agar lebih asik kami semua berdiri, adik-adik diminta berbaris. Saya mengamati.


Udin, ketua tim project kali ini, memberikan pembukaan. Disusul Fanbul, kemudian Halida dan yang lain-lain. Canggung memang tidak perlu bertahan lama-lama. Riuh tepuk tangan adik-adik, wajah-wajah bersemu di balik kulit kecoklatan. Tak kenal lagi apa itu asing.



Catatan syukur untuk kesekian kali; hangat oleh suguhan kesederhanaan. 

Tak masalah dengan tas baru, toh plastik juga mampu menampung buku. Tak bersepatu bukan berarti dilarang masuk ruang kelas untuk belajar oleh pak guru. Maka meski seragam berlubang di sana sini, atau tak punya alas kaki. Kami tak urung memiliki mimpi, tetap bisa bercita-cita.








---

Saya yang cupu ini setelah kegiatan volunteer rasanya jadi berasa digaplok. Ngapain aja selama ini? Beberapa hari setelah kegiatan usai saya mengontak Kinkin, salah satu teman yang menjadi Pengajar Muda. Bercerita singkat tentang kegiatan yang saya ikuti. Rada menggebu. 

Yo mancen ngono Ren Indonesia ki hehe. Opo meneh cah-cah sekolah sing ning daerah perbatasan. Mulane aku terdorong gabung Indonesia Mengajar” (“Ya memang gitu ren Indonesia ini hehe. Apalagi anak-anak sekolah di daerah perbatasan. Itu kenapa aku terdorong buat gabung indonesia Mengajar.”)

Mangap deh saya. 
Isih meh santai-wae-engko-wae, Ren?


Minggu, 25 Mei 2014

Merapikan kenangan.

Rasanya sudah lamaa banget ngga ngobrol panjang, banyak ya Ca.
Aku kangen banget
Kangen banget nget

aku mau mendengar banyak,
mau berbagi banyak

Semoga Ica selalu dalam kebaikan,
dan kelebihbaikkan.
cekatan, sabar, ikhlas, tekun, menikmati. 







kapan kita akan ngobrol banyak lagi ya Ca?
yang ada kamunya, yang ada akunya.

http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/dermaga-pagi-hari.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/v-behaviorurldefaultvmlo_2507.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/pagi-kita.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/hanyasaja-rasanya-hangat_10.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/06/selamat-malam-ca.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/08/adalah-sebagai-pengingat.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/10/penghias-langit.html
http://ichahaedy.tumblr.com/post/75674190848/bapak-saya-tidak-banyak-bicara-tapi-beliau
http://ichahaedy.tumblr.com/post/66084116124/http-retnonuraini-blogspot-com-2013-11-hai-adik-h
http://ichahaedy.tumblr.com/post/62983481821/ya-allah-tulisan-ini-rabb-bagaimana-hamba
http://ichahaedy.tumblr.com/post/50618759227/reni-kemarin-sore-meninggalkan-bandung
http://ichahaedy.tumblr.com/post/53581752226/ini-bukan-raja-ampat-bukan-pula-wakatobi
http://ichahaedy.tumblr.com/post/52102686701/pascalcampion-just-another-day-at-the-office
http://ichahaedy.tumblr.com/post/47625776931/sampai-jumpa
http://ichahaedy.tumblr.com/post/45308947304/toyapakeh-10-januari-2013
http://ichahaedy.tumblr.com/post/50719082520/selepas-subuh-dengan-mukena-masih-membalut-badan
http://ichahaedy.tumblr.com/post/52844679805/membuka-lagi-catatan-lalu-ah-rupanya-tulisan
http://ichahaedy.tumblr.com/post/52142606543/kidung-senja-mengalun-dari-rimbunan-nyiur
http://ichahaedy.tumblr.com/tagged/PenidaSoonToMeetBestFriend%3AReni%3A%29/chrono
http://ichahaedy.tumblr.com/post/29659012382/14-juli-2012-akhirnya-kelulusan
http://ichahaedy.tumblr.com/post/29657983640/hari-terakhir-bulan-mei-2012-masih-catatan-proses
http://ichahaedy.tumblr.com/post/27400693459/demi-apa-ren-ini-justru-ucapan-paling-romantis-yang
http://ichahaedy.tumblr.com/post/26560319817/multiple-choice
http://ichahaedy.tumblr.com/post/26559922216/marshmallow-story

tidak ada yang pergi dari hati, tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan.
-tereliye

Kamis, 03 April 2014

Tetap (akan) sama.

" .. this might be a 'happy belated birthday' wish, a 'friendship' greeting, or maybe just a 'memento' from the past. but surely the message is still the same - and will always be - in the picture, in our words, in our hearts” -Falma



Aamiin.
Allahuma aamiin.
Aku yang kudunya bilang terimakasih, Din, Fal.

Eh Dian, Falma ini kalau komen suka ngaco tapi sekalinya mengeluarkan kalimat yang dalem, selalu dalem gini ya :') Mau membalas dengan tulisan, bahasan tentang kalian berdua sudah banyak mengisi halaman sebelumnya. Maunya ya ditulis ulang lagi, detail inget kegiatan yang lalu sambil senyam senyum. Tapi nanti kalian sendiri yang bosen bacanya :p

Tau ngga? Kalian ini kok seperti mentari. 
Benar - benar seperti mentari.

"Seperti mentari, jauh tapi menghangatkan." -nn

Terdengar seperti gombalan ya? Haha. Etapi itu beneran ya Din, Fal bukan gombal. Selain kalian memang sudah punya anti-gombalan, ngapain pula menggombali sesama :p *kesannya jadi gombal gini -_-* Oya, aku mau berbagi tentang tulisan bagus yang aku baca. Ditulis oleh seorang mahasiswa dari kampus yang sama dengan kita. Dan yang ini adalah tulisan mengenai definisi teman baik. Berbeda dengan paradigma umum mengenai teman baik; ada di saat susah, hadir di kala senang. Mas Gun ini, begitu katanya panggilannya, memaparkan definisi yang berbeda. Definisi yang 'pas' yang hmm baca aja ya sendiri hehe. Sebelum membacanya Din, Fal;

Maka meski aku suka ini itu tralala trilili lalala babibu, udah sangat sering begitu menyebalkan, terimakasih sudah menjadi teman yang teramat baik; kemarin, hari ini, esok, nanti. Semoga meski rindu, kita bisa belajar saat ini tidak ada masalah dengan jarak, ruang, dan waktu. Karena seperti yang dituliskan oleh Bang Tere, tidak ada yang pergi dari hati tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan.

Melangitkan doa-doa
Menikmati perjalanan-perjalanan
Sampai bertemu lagi segera Din, Fal.
---

Tulisan oleh Kurniawan Gunadi mengenai teman yang baik. Meski tidak benar-benar mengenal, terimakasih masgun atas tulisan yang saya juga banyak orang lain kemudian dapat mengambil manfaatnya dari sini :)

Tulisan: Teman yang baik.
Saya memiliki definisi tersendiri tentang apa itu teman yang baik atau bisa jadi dikatakan sebagai sahabat. Bagi saya, mereka bukanlah orang yang selalu ada dan berada disekitar saya. Kemana-mana pergi bersama, melakukan banyak aktiivitas bersama. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya tidak bergantung. Ada atau tidak adanya mereka tidak akan menjadi sebuah masalah yang besar. Namun, mereka selalu ada ketika saya memerlukan sesuatu terutama teman diskusi. Dan diskusi (curhat) yang tidak hanya diberikan kata sabar, semangat, dan pukpukpuk. Tapi, benar-benar diskusi yang sangat efisien. Tidak melebar kemana-mana. Meskipun telah terputus komunikasi beberapa lama, mereka akan selalu hadir disaat saya benar-benar membutuhkan cara berpikir dan sudut pandang yang lain atas masalah saya.

Dalam beberapa waktu yang lalu, ketika saya ngobrol via dunia maya dengan adik kelas saya yang di UGM. Saya menyampaikan sesuatu, bahwa kita harus belajar hidup sendiri. Tidak bergantung kepada siapapun kecuali kepada Tuhan. Sahabat/teman dekat yang baik adalah orang-orang yang membuat kita tidak merasa bergantung kepada mereka, sedikit-sedikit ke mereka, jika tidak ada mereka, kita tidak bisa hidup, terpuruk saat menghadapi masalah, dan apapun alasannya. Mereka yang baik adalah yang mampu membangun kemandirian kita, kita bisa hidup dengan atau tanpa mereka. Dan kita bisa menghadapi masalah sehari-hari tanpa sedikit-sedikit curhat. Mereka membangun kemandirian kita agar kita sadar bahwa dalam lingkaran ini, masing-masing kita tidak akan selalu ada.

Kelak, pada beberapa tahun yang akan datang. Sahabat atau teman baik kita akan memiliki keluarga, pekerjaan, anak-anak, dan banyak hal lain yang akan menjadi prioritas mereka. Kita sendiri pun akan seperti itu. Ketergantungan itu memang suatu hal yang kurang baik, bahkan ke sahabat/teman baik sekalipun. 

Kita harus sadar bahwa akan datang masa dimana kita akan kesulitan bertemu bahkan berdiskusi dengan sahabat-sahabat karib kita itu. Dan jika tidak disadari dari sekarang, kita bisa kehilangan kekuatan dimasa yang akan datang. Keberadaan teman baik dan sahabat memang membuat kita menjadi kuat. Karena kita tahu bahwa ada orang-orang dibelakang kita yang mendukung dan bisa menjadi tempat pulang. Jika semua itu diambil, maka akan kemana kita?

Maka bangunlah kekuatan dan rumah itu sendiri. Teman yang baik akan selalu berusaha membuatmu menjadi mandiri, bisa mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas keputusan itu. Bagi saya sendiri, itu adalah sebuah bentuk kepercayaan seorang, bahwa kita bisa mengatasi masalah kita dan kita bisa bertanggung jawab atasnya.

Saya belajar hidup sendiri, ketika seluruh orang-orang dekat dalam hidup saya ini mungkin pada suatu ketika akan diambil semuanya. Bahkan termasuk orang tua saya sendiri. Saya terus belajar untuk memperluas ilmu dan pemahaman, bahwa hidup ini hanya bisa bergantung pada satu Dzat. Dan segala hal yang akan terjadi menjadi tanggung jawab sendiri ketika dihadapan-Nya. 

Saya bersyukur memiliki lingkaran pertemanan yang paham akan hal ini, meski tidak ada komunikasi bahkan dalam setengah tahun sekalipun. Mereka ada dalam ketiadaannya. Ketika saya kehabisan cara dan sudut pandang, maka kepada mereka saya datang dan berdiskusi. Saya merasa mungkin Tuhan akan menyampaikan jalan keluarnya melalui orang lain. Dan orang lain itu pastilah orang yang tepat.

Temanggung, 12 Oktober 2013

Rabu, 26 Maret 2014

Lingkaran-lingkaran kecil

Lepas magrib.

Saya mematikan mesin motor, menatap sejenak ke sekeliling. Melongokkan kepala ke dalam pagar masjid, ada beberapa bapak-bapak sedang duduk melingkar. ‘Wah rame sekali, coba tanya ke orang lain sajalah’ pikir saya. Baru saja akan menyalakan mesin motor, kemudian anak kecil memanggil. 

“Mbaak mbaak mau sholat di masjid ya?” 

Saya menoleh. Anak perempuan dengan kerudung putih mengayuh sepedanya keluar melewati batas pagar masjid menuju saya. 

“Eh, enggak. Adek tau rumahnya Bu Nanik?” tanya saya.

“Emm Bu Nanik ya? Tunggu saya tanya dulu ya,” sahut adek itu.

Kemudian segera mengayuh lagi sepeda kecilnya masuk ke halaman masjid. Si adik menuju kerumunan bapak-bapak tadi, menunjuk-nunjuk bertanya. Kemudian segera menaiki sepedanya lagi, beralih menuju saya. 

“Tunggu Mbak ya, bapaknya ngga tau ternyata. Sebentar ya. Bu, Bu, tau rumahnya Bu Nanik ngga?” tanya si adik tadi pada ibu-ibu yang baru saja merapatkan motor di pagar masjid.

“Ini Bu, Bu Nanik guru ngaji yang ngajar di Mardhatillah,” tambah saya pada ibu yang baru datang.

“Oh Bu Nanik. Ini Mbak tinggal lurus aja, nanti ketemu pertigaan di kiri pojok jalan ada rumah ada pagernya warna hijau. Mbaknya belok kiri, lurus aja sedikit nanti di kiri jalan dah ketemu rumah Bu Nanik,” jawab ibu tadi sambil tersenyum ramah. 

“Oh pertigaan itu ya Bu? Berarti langsung belok kiri setelah itu ya?” tanya saya meyakinkan sekali lagi.

“Iya betul mbak,” jawab ibunya.

“Oh ya Bu, makasi banyak bu ya.”

“Ayo Mbak, gampang kok jalannya tinggal itu aja kan, aku tau,” sahut si adek tadi nyaring.

“Eh tunggu bentar aku nyalain motor dulu,” kata saya.

Adik ini, ramah sekali.

Saya menyalakan mesin, memutar balikkan motor menuju arah yang ditunjukkan oleh ibu tadi. Berusaha menyusul si adek yang mengayuh pedal sepedanya cepat-cepat. Mensejajarkan motor dengan sepeda, membersamainya. 

“Adek namanya siapa?” tanya saya.

“Amel. Amelia Mbak,” jawabnya. Sambil tetap khusyuk memandang pertigaan jalan di depan. 

“Mbak itu tuh, rumahnya Bu Nanik kayanya yang di sana,” kata Amel, makin ngebut menggenjot pedal sepedanya.

“Ameel, bukannya belok kiri sini ya?” tanya saya setengah teriak, Amel sudah melaju lebih duludi depan. “Mel, tunggu Mel kita tanya aja ya.”

Benar saja, kami kebablasan. Saya memberi tatapan ‘tuh kan Mel’ yang dibalas oleh Amel dengan senyuman yang menampakkan sederetan gigi putihnya. Kami berbalik, di pertigaan belok kanan. Beberapa meter di kiri jalan Amel berseru,”Mbak ini ada ibu yang ngajar ngaji ini. Bu Nanik ya? Bu ini dicari sama temennya.”

Ternyata Amel juga belum kenal Bu Nanik teman teman ^^a

“Udah ya Mbak, Amel balik lagi,” kata Amel langsung mengayuh sepedanya ke pertigaan jalan. 

“Makasi banyak ya Mel. Amel ngga ikut mampir mel?” tanya saya dan Amelnya sudah mendekati belokan pertigaan jalan, melambaikan tangan mungilnya sambil meringis. 

Namanya Amelia. Saya baru beberapa jam mengenalnya; ramah, hangat, ceria khas anak-anak. Sampai ketemu lagi ya, Mel.

--- 

Mbak Nanik. 

Begitu saya memanggilnya. Wanita yang baru saya kenal kurang lebih 2 bulan lalu. Pada pertemuan pertama, saya kemudian ‘jatuh cinta’ pada kalimat-kalimat penutup agenda sore itu. Kalimat yang diucapkan beliau dengan wajah rindu, yang mendorong saya malam ini berkunjung kemari, ke rumahnya.

Lepas magrib sore ini. 

Lepas magrib saya kali ini disambut oleh senyum manis empat anak perempuan; Putri, Anis, Olive, dan Sabrina. Yang paling kecil adalah Anis, kelas 1 SD kemudian yang paling besar adalah Sabrina kelas 5 SD. Ini dia beberapa dari murid-murid jagoannya Mbak Nanik, karena kalau lagi rame bisa 15 orang jumlahnya hehe. 

Mbak Nanik dan empat muridnya
Lepas magrib setiap hari Senin, Selasa, dan Rabu, Mbak Nanik membuka rumahnya untuk anak-anak yang mau belajar ngaji. Sampai menjelang waktu shalat isya satu persatu anak-anak dicek ngajinya oleh Mbak Nanik, setelah itu hafalan surat secara pribadi. Anis tadi saya lihat merebahkan badan kemudian menyilangkan kaki, mulai menghafal. Yang lain ada yang merepet ke pilar bangunan, mulai menghafal per ayat. 


Saya memperhatikan bagaimana Mbak Nanik mengajar. Bermain tebak-tebakan ayat dari salah satu surat, tebak-tebakan doa sehari-hari, entah itu doa memakai pakaian, bercermin, masuk masjid, dll. Bagaimana nada yang digunkaan ketika memperingatkan adik-adik ini ‘Ayo itu kalau makan tangannya pakai tangan kanan ya anak sholeh’ atau misal pas ada diantara mereka berebut sesuatu atau ada yang sedang jahil ‘ Ayo ayo, Allah tau siapa yang bohong, Allah tau juga siapa yang jujur’. 

Memperhatikan, tersenyum. 

Shabrina dan Mbak Nanik

Saya beri tahu sesuatu
Adik-adik ini, kecil-kecil cabe rawit. 
Tiga dari empat adik-adik ini, sudah mengkhatamkan juz 30. 

Apa yang terbayang?
Tentu tidak lain dan tidak bukan,
Adalah apa yang dijanjikan,
pada orangtua yang anak-anaknya menghafal kitabullah; mahkota dari cahaya.
---

“Saya ngajar ngaji di rumah ren, tiap senin, selasa, rabu habis magrib. Ngajar ngaji anak-anak tetangga, kebanyakan orangtuanya sibuk terus dititipkan buat ngaji. Saya luangkan waktu. Lumayan kan buat tabungan, bagi ilmu. Nanti kali-kali di akhirat anak-anak itu ditanya sama Allah ‘siapa yang ngajar ngaji’ terus dijawab saya yang ngajarin. Lumayan kan, keren di depan Allah.” 

Begitu ucap Mbak Nanik dua bulan lalu sambil tersenyum, yang tampak seperti membayangkan. Klaimat yang asalnya dari hati dan memang benar-benar sampai ke hati. Mulai sejak itu benar-benar saya kemudian tuliskan, menjadi salah satu mimpi; saya mau jadi guru ngaji.