Selasa, 09 Februari 2016

The maps


I remember in detail of how then I owned these maps.

It was at the end of 2013, when I was in a christmas and a new year holiday visiting my hometown, Magelang. I went to a small bookstore as being suggested by a friend of mine, Ustica, buying a map of Indonesia and a world map. Since after that, I dropped marks to several places, cities, and countries for my future visit on it.

She said vigorously that time,”I just buy it anyway, you too please. Let us start arranging our future europe trip, even just from purchasing the map of it in advance. What can we do the next, we will think about it afterwards.”

The greatest inspiration to us came from the Indonesian Film of 99 Lights in European Sky – 99 Cahaya di Langit Eropa. Recalling back the time I saw it, I ended the film with the glowing eyes, how I then felt a beautiful pride and a sadness at the same time knowing the historical development of Islam in Europe; Turkey, France, Napoleon Bonaparte, Louvre Museum, Notre Dame Church.

I decided; I have to visit Europe. Someday. No matter how.

I keep those map well along with the I-am-not-quite-certain-to-be-materialized-desire for the last two years. Once I could be a girl with the glazed eyes if thinking how I eager to experience  Islam in Europe. As time goes by, the desire evolves to be more than that. Modifying my europe-trip-dream to also learning aquaculture science, an appeared thought after I worked in a marine NGO. And other following modified dreams; building a social enterprise, having a big culture of sea cucumber, getting closer and closer to coastal people.

And after the ups and downs of chasing those all, in the end of 2015 an opportunity was miraculously blowed away to me. All praise to Allah, Alhamdulillah, Allahu Akbar! I got a ticket to continue my master study to europe, a full scholarship program from the government of Indonesia.

Dream big. Start small.

I am, so as the many many other people, the biggest admirer of God’s work. He, by the unseen hand, build a wonderful path connecting million sons of adam to their dreams. He plays on his own rules, puts wisdoms on every single occurence, either in a good one or a bad one, confers upon us a magical power to face the bittersweet of life.

Had a dream
Keep it in our deepest heart
Muster our best effort
Have a good prejudice
Let the universe leads us to it

I always believe what I want to believe. You also, can believe what you want to believe, anyway.

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kanal-kanal mimpi bukit nusa

Cerita satu.
7 September 2013.

Kesekian kalinya. Akan tetapi, kesempatan ini sedang tidak untuk beramah tanah dengan bibir pantai dengan bulir bulir pasir putih. Tidak untuk menyesap secangkir teh melati hangat di Warung Restu duduk manis menyambut keemasan di baratnya laut.

Pagi ini setidaknya peluh menjadi pertanda ada kalori yang terbakar ketika kami akhirnya mencapai sekolah. Lumayan. Setelah kurang lebih berjalan kaki 30-45 menit dari rumah warga maka ini dia; SD Negeri 4 Batukandik


Kakak-kakak ne sube tekee!” teriak seorang anak. Setengah berlari menuju kerumunan anak-anak berseragam merah putih. (Kakak kakaknya sudah dataang!)

Perbukitan nusa pertengahan September menjelma menjadi bukit yang malam-malamnya berhembus angin berhawa dingin, sementara pergeseran waktu menjadi siang intensitas cahaya matahari menguat menstimulus kelenjar keringat mensekresikan peluh melalui pori-pori kulit. Seperti siang ini. Sedang tak mau berpanas panas lagi, jadilah kemudian kami berkerumun di bawah pohon rindang.

Eni, Fanbul, dan Udin mulai membuka obrolan dengan adik-adik

Perkenalan dimulai. Kami mau berkenalan dengan menari nari. Agar lebih asik kami semua berdiri, adik-adik diminta berbaris. Saya mengamati.


Udin, ketua tim project kali ini, memberikan pembukaan. Disusul Fanbul, kemudian Halida dan yang lain-lain. Canggung memang tidak perlu bertahan lama-lama. Riuh tepuk tangan adik-adik, wajah-wajah bersemu di balik kulit kecoklatan. Tak kenal lagi apa itu asing.



Catatan syukur untuk kesekian kali; hangat oleh suguhan kesederhanaan. 

Tak masalah dengan tas baru, toh plastik juga mampu menampung buku. Tak bersepatu bukan berarti dilarang masuk ruang kelas untuk belajar oleh pak guru. Maka meski seragam berlubang di sana sini, atau tak punya alas kaki. Kami tak urung memiliki mimpi, tetap bisa bercita-cita.








---

Saya yang cupu ini setelah kegiatan volunteer rasanya jadi berasa digaplok. Ngapain aja selama ini? Beberapa hari setelah kegiatan usai saya mengontak Kinkin, salah satu teman yang menjadi Pengajar Muda. Bercerita singkat tentang kegiatan yang saya ikuti. Rada menggebu. 

Yo mancen ngono Ren Indonesia ki hehe. Opo meneh cah-cah sekolah sing ning daerah perbatasan. Mulane aku terdorong gabung Indonesia Mengajar” (“Ya memang gitu ren Indonesia ini hehe. Apalagi anak-anak sekolah di daerah perbatasan. Itu kenapa aku terdorong buat gabung indonesia Mengajar.”)

Mangap deh saya. 
Isih meh santai-wae-engko-wae, Ren?


Minggu, 25 Mei 2014

Merapikan kenangan.

Rasanya sudah lamaa banget ngga ngobrol panjang, banyak ya Ca.
Aku kangen banget
Kangen banget nget

aku mau mendengar banyak,
mau berbagi banyak

Semoga Ica selalu dalam kebaikan,
dan kelebihbaikkan.
cekatan, sabar, ikhlas, tekun, menikmati. 







kapan kita akan ngobrol banyak lagi ya Ca?
yang ada kamunya, yang ada akunya.

http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/dermaga-pagi-hari.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/v-behaviorurldefaultvmlo_2507.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/pagi-kita.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/04/hanyasaja-rasanya-hangat_10.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/06/selamat-malam-ca.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/08/adalah-sebagai-pengingat.html
http://retnonuraini.blogspot.com/2013/10/penghias-langit.html
http://ichahaedy.tumblr.com/post/75674190848/bapak-saya-tidak-banyak-bicara-tapi-beliau
http://ichahaedy.tumblr.com/post/66084116124/http-retnonuraini-blogspot-com-2013-11-hai-adik-h
http://ichahaedy.tumblr.com/post/62983481821/ya-allah-tulisan-ini-rabb-bagaimana-hamba
http://ichahaedy.tumblr.com/post/50618759227/reni-kemarin-sore-meninggalkan-bandung
http://ichahaedy.tumblr.com/post/53581752226/ini-bukan-raja-ampat-bukan-pula-wakatobi
http://ichahaedy.tumblr.com/post/52102686701/pascalcampion-just-another-day-at-the-office
http://ichahaedy.tumblr.com/post/47625776931/sampai-jumpa
http://ichahaedy.tumblr.com/post/45308947304/toyapakeh-10-januari-2013
http://ichahaedy.tumblr.com/post/50719082520/selepas-subuh-dengan-mukena-masih-membalut-badan
http://ichahaedy.tumblr.com/post/52844679805/membuka-lagi-catatan-lalu-ah-rupanya-tulisan
http://ichahaedy.tumblr.com/post/52142606543/kidung-senja-mengalun-dari-rimbunan-nyiur
http://ichahaedy.tumblr.com/tagged/PenidaSoonToMeetBestFriend%3AReni%3A%29/chrono
http://ichahaedy.tumblr.com/post/29659012382/14-juli-2012-akhirnya-kelulusan
http://ichahaedy.tumblr.com/post/29657983640/hari-terakhir-bulan-mei-2012-masih-catatan-proses
http://ichahaedy.tumblr.com/post/27400693459/demi-apa-ren-ini-justru-ucapan-paling-romantis-yang
http://ichahaedy.tumblr.com/post/26560319817/multiple-choice
http://ichahaedy.tumblr.com/post/26559922216/marshmallow-story

tidak ada yang pergi dari hati, tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan.
-tereliye

Kamis, 03 April 2014

Tetap (akan) sama.

" .. this might be a 'happy belated birthday' wish, a 'friendship' greeting, or maybe just a 'memento' from the past. but surely the message is still the same - and will always be - in the picture, in our words, in our hearts” -Falma



Aamiin.
Allahuma aamiin.
Aku yang kudunya bilang terimakasih, Din, Fal.

Eh Dian, Falma ini kalau komen suka ngaco tapi sekalinya mengeluarkan kalimat yang dalem, selalu dalem gini ya :') Mau membalas dengan tulisan, bahasan tentang kalian berdua sudah banyak mengisi halaman sebelumnya. Maunya ya ditulis ulang lagi, detail inget kegiatan yang lalu sambil senyam senyum. Tapi nanti kalian sendiri yang bosen bacanya :p

Tau ngga? Kalian ini kok seperti mentari. 
Benar - benar seperti mentari.

"Seperti mentari, jauh tapi menghangatkan." -nn

Terdengar seperti gombalan ya? Haha. Etapi itu beneran ya Din, Fal bukan gombal. Selain kalian memang sudah punya anti-gombalan, ngapain pula menggombali sesama :p *kesannya jadi gombal gini -_-* Oya, aku mau berbagi tentang tulisan bagus yang aku baca. Ditulis oleh seorang mahasiswa dari kampus yang sama dengan kita. Dan yang ini adalah tulisan mengenai definisi teman baik. Berbeda dengan paradigma umum mengenai teman baik; ada di saat susah, hadir di kala senang. Mas Gun ini, begitu katanya panggilannya, memaparkan definisi yang berbeda. Definisi yang 'pas' yang hmm baca aja ya sendiri hehe. Sebelum membacanya Din, Fal;

Maka meski aku suka ini itu tralala trilili lalala babibu, udah sangat sering begitu menyebalkan, terimakasih sudah menjadi teman yang teramat baik; kemarin, hari ini, esok, nanti. Semoga meski rindu, kita bisa belajar saat ini tidak ada masalah dengan jarak, ruang, dan waktu. Karena seperti yang dituliskan oleh Bang Tere, tidak ada yang pergi dari hati tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan.

Melangitkan doa-doa
Menikmati perjalanan-perjalanan
Sampai bertemu lagi segera Din, Fal.
---

Tulisan oleh Kurniawan Gunadi mengenai teman yang baik. Meski tidak benar-benar mengenal, terimakasih masgun atas tulisan yang saya juga banyak orang lain kemudian dapat mengambil manfaatnya dari sini :)

Tulisan: Teman yang baik.
Saya memiliki definisi tersendiri tentang apa itu teman yang baik atau bisa jadi dikatakan sebagai sahabat. Bagi saya, mereka bukanlah orang yang selalu ada dan berada disekitar saya. Kemana-mana pergi bersama, melakukan banyak aktiivitas bersama. Mereka adalah orang-orang yang membuat saya tidak bergantung. Ada atau tidak adanya mereka tidak akan menjadi sebuah masalah yang besar. Namun, mereka selalu ada ketika saya memerlukan sesuatu terutama teman diskusi. Dan diskusi (curhat) yang tidak hanya diberikan kata sabar, semangat, dan pukpukpuk. Tapi, benar-benar diskusi yang sangat efisien. Tidak melebar kemana-mana. Meskipun telah terputus komunikasi beberapa lama, mereka akan selalu hadir disaat saya benar-benar membutuhkan cara berpikir dan sudut pandang yang lain atas masalah saya.

Dalam beberapa waktu yang lalu, ketika saya ngobrol via dunia maya dengan adik kelas saya yang di UGM. Saya menyampaikan sesuatu, bahwa kita harus belajar hidup sendiri. Tidak bergantung kepada siapapun kecuali kepada Tuhan. Sahabat/teman dekat yang baik adalah orang-orang yang membuat kita tidak merasa bergantung kepada mereka, sedikit-sedikit ke mereka, jika tidak ada mereka, kita tidak bisa hidup, terpuruk saat menghadapi masalah, dan apapun alasannya. Mereka yang baik adalah yang mampu membangun kemandirian kita, kita bisa hidup dengan atau tanpa mereka. Dan kita bisa menghadapi masalah sehari-hari tanpa sedikit-sedikit curhat. Mereka membangun kemandirian kita agar kita sadar bahwa dalam lingkaran ini, masing-masing kita tidak akan selalu ada.

Kelak, pada beberapa tahun yang akan datang. Sahabat atau teman baik kita akan memiliki keluarga, pekerjaan, anak-anak, dan banyak hal lain yang akan menjadi prioritas mereka. Kita sendiri pun akan seperti itu. Ketergantungan itu memang suatu hal yang kurang baik, bahkan ke sahabat/teman baik sekalipun. 

Kita harus sadar bahwa akan datang masa dimana kita akan kesulitan bertemu bahkan berdiskusi dengan sahabat-sahabat karib kita itu. Dan jika tidak disadari dari sekarang, kita bisa kehilangan kekuatan dimasa yang akan datang. Keberadaan teman baik dan sahabat memang membuat kita menjadi kuat. Karena kita tahu bahwa ada orang-orang dibelakang kita yang mendukung dan bisa menjadi tempat pulang. Jika semua itu diambil, maka akan kemana kita?

Maka bangunlah kekuatan dan rumah itu sendiri. Teman yang baik akan selalu berusaha membuatmu menjadi mandiri, bisa mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas keputusan itu. Bagi saya sendiri, itu adalah sebuah bentuk kepercayaan seorang, bahwa kita bisa mengatasi masalah kita dan kita bisa bertanggung jawab atasnya.

Saya belajar hidup sendiri, ketika seluruh orang-orang dekat dalam hidup saya ini mungkin pada suatu ketika akan diambil semuanya. Bahkan termasuk orang tua saya sendiri. Saya terus belajar untuk memperluas ilmu dan pemahaman, bahwa hidup ini hanya bisa bergantung pada satu Dzat. Dan segala hal yang akan terjadi menjadi tanggung jawab sendiri ketika dihadapan-Nya. 

Saya bersyukur memiliki lingkaran pertemanan yang paham akan hal ini, meski tidak ada komunikasi bahkan dalam setengah tahun sekalipun. Mereka ada dalam ketiadaannya. Ketika saya kehabisan cara dan sudut pandang, maka kepada mereka saya datang dan berdiskusi. Saya merasa mungkin Tuhan akan menyampaikan jalan keluarnya melalui orang lain. Dan orang lain itu pastilah orang yang tepat.

Temanggung, 12 Oktober 2013

Rabu, 26 Maret 2014

Lingkaran-lingkaran kecil

Lepas magrib.

Saya mematikan mesin motor, menatap sejenak ke sekeliling. Melongokkan kepala ke dalam pagar masjid, ada beberapa bapak-bapak sedang duduk melingkar. ‘Wah rame sekali, coba tanya ke orang lain sajalah’ pikir saya. Baru saja akan menyalakan mesin motor, kemudian anak kecil memanggil. 

“Mbaak mbaak mau sholat di masjid ya?” 

Saya menoleh. Anak perempuan dengan kerudung putih mengayuh sepedanya keluar melewati batas pagar masjid menuju saya. 

“Eh, enggak. Adek tau rumahnya Bu Nanik?” tanya saya.

“Emm Bu Nanik ya? Tunggu saya tanya dulu ya,” sahut adek itu.

Kemudian segera mengayuh lagi sepeda kecilnya masuk ke halaman masjid. Si adik menuju kerumunan bapak-bapak tadi, menunjuk-nunjuk bertanya. Kemudian segera menaiki sepedanya lagi, beralih menuju saya. 

“Tunggu Mbak ya, bapaknya ngga tau ternyata. Sebentar ya. Bu, Bu, tau rumahnya Bu Nanik ngga?” tanya si adik tadi pada ibu-ibu yang baru saja merapatkan motor di pagar masjid.

“Ini Bu, Bu Nanik guru ngaji yang ngajar di Mardhatillah,” tambah saya pada ibu yang baru datang.

“Oh Bu Nanik. Ini Mbak tinggal lurus aja, nanti ketemu pertigaan di kiri pojok jalan ada rumah ada pagernya warna hijau. Mbaknya belok kiri, lurus aja sedikit nanti di kiri jalan dah ketemu rumah Bu Nanik,” jawab ibu tadi sambil tersenyum ramah. 

“Oh pertigaan itu ya Bu? Berarti langsung belok kiri setelah itu ya?” tanya saya meyakinkan sekali lagi.

“Iya betul mbak,” jawab ibunya.

“Oh ya Bu, makasi banyak bu ya.”

“Ayo Mbak, gampang kok jalannya tinggal itu aja kan, aku tau,” sahut si adek tadi nyaring.

“Eh tunggu bentar aku nyalain motor dulu,” kata saya.

Adik ini, ramah sekali.

Saya menyalakan mesin, memutar balikkan motor menuju arah yang ditunjukkan oleh ibu tadi. Berusaha menyusul si adek yang mengayuh pedal sepedanya cepat-cepat. Mensejajarkan motor dengan sepeda, membersamainya. 

“Adek namanya siapa?” tanya saya.

“Amel. Amelia Mbak,” jawabnya. Sambil tetap khusyuk memandang pertigaan jalan di depan. 

“Mbak itu tuh, rumahnya Bu Nanik kayanya yang di sana,” kata Amel, makin ngebut menggenjot pedal sepedanya.

“Ameel, bukannya belok kiri sini ya?” tanya saya setengah teriak, Amel sudah melaju lebih duludi depan. “Mel, tunggu Mel kita tanya aja ya.”

Benar saja, kami kebablasan. Saya memberi tatapan ‘tuh kan Mel’ yang dibalas oleh Amel dengan senyuman yang menampakkan sederetan gigi putihnya. Kami berbalik, di pertigaan belok kanan. Beberapa meter di kiri jalan Amel berseru,”Mbak ini ada ibu yang ngajar ngaji ini. Bu Nanik ya? Bu ini dicari sama temennya.”

Ternyata Amel juga belum kenal Bu Nanik teman teman ^^a

“Udah ya Mbak, Amel balik lagi,” kata Amel langsung mengayuh sepedanya ke pertigaan jalan. 

“Makasi banyak ya Mel. Amel ngga ikut mampir mel?” tanya saya dan Amelnya sudah mendekati belokan pertigaan jalan, melambaikan tangan mungilnya sambil meringis. 

Namanya Amelia. Saya baru beberapa jam mengenalnya; ramah, hangat, ceria khas anak-anak. Sampai ketemu lagi ya, Mel.

--- 

Mbak Nanik. 

Begitu saya memanggilnya. Wanita yang baru saya kenal kurang lebih 2 bulan lalu. Pada pertemuan pertama, saya kemudian ‘jatuh cinta’ pada kalimat-kalimat penutup agenda sore itu. Kalimat yang diucapkan beliau dengan wajah rindu, yang mendorong saya malam ini berkunjung kemari, ke rumahnya.

Lepas magrib sore ini. 

Lepas magrib saya kali ini disambut oleh senyum manis empat anak perempuan; Putri, Anis, Olive, dan Sabrina. Yang paling kecil adalah Anis, kelas 1 SD kemudian yang paling besar adalah Sabrina kelas 5 SD. Ini dia beberapa dari murid-murid jagoannya Mbak Nanik, karena kalau lagi rame bisa 15 orang jumlahnya hehe. 

Mbak Nanik dan empat muridnya
Lepas magrib setiap hari Senin, Selasa, dan Rabu, Mbak Nanik membuka rumahnya untuk anak-anak yang mau belajar ngaji. Sampai menjelang waktu shalat isya satu persatu anak-anak dicek ngajinya oleh Mbak Nanik, setelah itu hafalan surat secara pribadi. Anis tadi saya lihat merebahkan badan kemudian menyilangkan kaki, mulai menghafal. Yang lain ada yang merepet ke pilar bangunan, mulai menghafal per ayat. 


Saya memperhatikan bagaimana Mbak Nanik mengajar. Bermain tebak-tebakan ayat dari salah satu surat, tebak-tebakan doa sehari-hari, entah itu doa memakai pakaian, bercermin, masuk masjid, dll. Bagaimana nada yang digunkaan ketika memperingatkan adik-adik ini ‘Ayo itu kalau makan tangannya pakai tangan kanan ya anak sholeh’ atau misal pas ada diantara mereka berebut sesuatu atau ada yang sedang jahil ‘ Ayo ayo, Allah tau siapa yang bohong, Allah tau juga siapa yang jujur’. 

Memperhatikan, tersenyum. 

Shabrina dan Mbak Nanik

Saya beri tahu sesuatu
Adik-adik ini, kecil-kecil cabe rawit. 
Tiga dari empat adik-adik ini, sudah mengkhatamkan juz 30. 

Apa yang terbayang?
Tentu tidak lain dan tidak bukan,
Adalah apa yang dijanjikan,
pada orangtua yang anak-anaknya menghafal kitabullah; mahkota dari cahaya.
---

“Saya ngajar ngaji di rumah ren, tiap senin, selasa, rabu habis magrib. Ngajar ngaji anak-anak tetangga, kebanyakan orangtuanya sibuk terus dititipkan buat ngaji. Saya luangkan waktu. Lumayan kan buat tabungan, bagi ilmu. Nanti kali-kali di akhirat anak-anak itu ditanya sama Allah ‘siapa yang ngajar ngaji’ terus dijawab saya yang ngajarin. Lumayan kan, keren di depan Allah.” 

Begitu ucap Mbak Nanik dua bulan lalu sambil tersenyum, yang tampak seperti membayangkan. Klaimat yang asalnya dari hati dan memang benar-benar sampai ke hati. Mulai sejak itu benar-benar saya kemudian tuliskan, menjadi salah satu mimpi; saya mau jadi guru ngaji. 

Minggu, 16 Maret 2014

Candu.

“Mendapatkan saja sulit, menjaganya jauh lebih sulit.” –Mbak Kiky sore tadi.

Rasa nyaman tidak datang begitu saja, dia perlu diusahakan. Menurut saya, pun menurut kebanyakan orang, agaknya rasa nyaman, rasa tenang dalam hati tak dapat ditukar dengan apapun. Bila hati dalam kondisi yang nyaman, rasanya energi positif mengaliri tiap-tiap ruas tubuh, optimisme meningkat drastis. 

Seperti sore tadi, saat nyaman bertandang kembali.

Beberapa bulan terakhir, rindu seperti ini terasa sedikit berbeda dari rindu pada tahun-tahun sebelumnya. Berada pada lingkungan dimana muslim menjadi minoritas, menjadikan saya sangat merindukan momen momen melingkar. Bertemu dengan teman-teman yang bersama menumbuhkan dan menjaga, saling menguatkan. Rasanya hanya ingin selalu berada dekat-dekat dengan mereka :’)

Menjaga jauh lebih sulit. Menjaga katanya bukan hanya sekedar, bukan pekerjaan sambil lalu yang penting intinya begitu. Dan melingkar seperti ini menjadi salah satu bentuk penjagaan paling baik yang bisa dirasakan; mengingatkan, berbagi satu sama lain. 

"Memang tidak bisa sendiri-sendiri, harus bersama biar bareng-bareng menguatkan," kata si Mbak.

Luruskan niat, perbaiki setiap saat.
Bertemu dengan mereka rasanya menjadi candu.
Rabb, buat aku selalu dekat-dekat dengan teman-teman seperti mereka ini. 
---

Susunan kalimat milik teman yang kemudian bergaung :')

Dan jika semua kelak telah menjadi masa lalu
Aku ingin kita tengah berada di atas dipan-dipan beralaskan emas permata dan berbantalkan sutera
Bersandar di atasnya dan berhadap-hadapan
Kemudian kita saling bercerita
Tentang apa yang telah kita kerjakan di masa lalu
Yang akhirnya menyebabkan kita dijamu
Di surga-Nya yang tak ada akhirnya. Aamiin.

Rabu, 12 Februari 2014

Tanggal ini setahun kemudian.

Malam ini hujan datang bersama rindu
Keroyokan. Curang sekali.
Selalu saja begitu bila mereka datang bersamaan,
Sukses membuat anak perempuan sembab sesenggukan.
--- 

12 Februari setahun kemudian
Tentu tidak sama dengan hari ini, pun dengan tanggal yang sama pada tahun-tahun yang lalu. Kami tak perlu kami ngumpet sempit-sempitan di sebrang kamar kosmu, memaksa dwi telepon berpura-pura minta dicarikan kecoa untuk praktikum esok hari. Atau pada tahun sebelumnya saat kami menunggumu dalam gelap mengendap-endap masuk salah satu kamar di asrama putri salman, bersiap dengan nampan berisi kue. 

12 Februari setahun kemudian 
Belajar di tempat yang lain lagi, kawan baru, suasana baru. Boleh ya Fal, tetap berbagi cerita dengan kami bagaimana cuaca barumu di sana :)

12 Februari setahun kemudian
Padahal ini tidak benar-benar jauh. Tidak sejauh dimana kamu akan memijakkan kaki pada tanggal yang sama setahun kemudian

Padahal ini tidak benar-benar sulit untuk bertemu orang-orang terdekat. Tidak sesulit bagaimana usaha yang dikeluarkan bila pada tanggal ini setahun kemudian kamu ingin berada diantara orang-orang tersayang
Tapi biar jauh, biar dekat, muasalnya tetap sama; jarak.

Jarak itu bisa relatif bukan? Aku sekarang ini tidak benar-benar jauh, pun tidak benar-benar sulit untuk bertemu orang-orang terdekat; tapi begini cukup membuatku kepayahan mengatasi rindu. 

Aku lalu ingat bagaimana ujung jari bapak mengetuk-ngetuk pinggiran kursi di saat-saat kami ngobrol. Bagaimana ibu menyeru kesal entah karena aku lupa dimana meletakkan barang, lupa membawa sesuatu. Senyum simpul berarti yang mengakhiri kalimat-kalimat. Sorot-sorot mata pada perpisahan, pada pertemuan-pertemuan. 

Pergi (sedikit) lebih jauh dari rumah akan membuat kita tahu bagaimana rasanya pulang. Menghidupi detik ini memang cara terbaik untuk kemudian membuat kita tersenyum mengingat. Dalam beberapa bulan ke depan, sebelum berangkat untuk menuntut ilmu di negeri sebrang Fal, nikmati masa-masa bersama Tante Zoel, Oom, Dhira, sama Oma ya, sebelum kemudian pulang untuk memeluk mereka lagi erat erat.
---

Wangi formalin yang akrab di semester-semester akhir. Boulevard. Lari-larian sepanjang asrama putri salman-gku timur lantai tiga. Pembagian materi uts/uas. Film makrab. Tiap-tiap kuliah lapangan. Lembar-lembar kitab biselmol pada sepertiga terkahir bulan ramadhan. Ber-bajaj bolak-balik rumahmu-gedung kkp yang kemudian membuat berpikir ‘oh oh oh jakarta’. Seapud. Willingnes to pay survey. Bergelempangan pada malam-malam mabit. Expired date Milo. Tragedi pesona bule palsu menjelang sunset di kuta. Bubur ayam favorit depan gang mama usen. Warung makan sehati; dan banyak lagi ya Fal, tak cukup dituliskan satu persatu. 

Padamu, pada powerranger, aku kangen sekali. Teman menuliskan, obat rindu itu ada dua; bertemu atau berdoa. Yang pertama melegakan tapi bisa memberatkan. Yang kedua, menguji kesabaran tapi pasti tersampaikan.

Memberatkan karena setiap dari kita punya prioritas masing-masing saat ini. Semoga saja Mei atau Juni berbaik hati memberi kesempatan untuk kunjungan-kunjungan. 

Doaku; semoga pada tanggal ini setahun kemudian kita semua selalu berada dalam kelebihbaikkan. Sampai bertemu segera teman teman :’)