Senin, 04 November 2013

Hai, adik.

Apakah rasanya setiap sel-sel di tubuhmu sudah maksimal lelah? Lelah untuk terus dipaksa ‘on’ agar tidak tertidur saat mengetikkan kalimat demi kalimat untuk bundel skripsi. Memaksa untuk melek hingga tengah malam atau bahkan pagi demi tidak melewatkan tenggat waktu pengumpulan. 

Atau mungkin pernah sampai jarimu gemetaran akibat kurang tidur. Badan rasanya anyep, dingin, kepala kadang terasa pusing dipenuhi hal-hal terkait revisi dari dosen pembimbing, belum lagi belajar untuk mempersiapkan pendadaran. Mengetik seharian lalu lupa mandi #eh. Asal jangan lupa sholat tidak apa-apa. 

Apakah hatimu berdebar-debar akan menghadapi sidang besok?

Itu wajar. Sini, aku mau bercerita sedikit. 

Adalah Selasa, 12 Maret 2013. Syahdan teradapat seorang perempuan yang akan menghadapi sidang awal tahun ini, yaitu aku hehe. Malam sebelumnya aku menginap di lab di kampus, berharap memanfaatkan sebaik-baik waktu malam terakhir sebelum sidang untuk belajar karena kalau di kosan seringkali jatuh tertidur. Membaca cepat, memahami lagi ringkasan-ringkasan yang sudah aku buat. Baru memejamkan mata saat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Terbangun segera untuk subuh dilanjutkan diskusi dengan 2 kawanku yang juga menginap di lab saat itu. 

Siang harinya bertemu dengan Pak Mamid, dosen pembimbing. Rasanya badan sudah tidak mau diajak kompromi. Melihatku dalam keadaan yang (sepertinya) tampak mengenaskan, pembahasan sedikit saja lalu Pak Mamid menyuruhku pulang. “Udah, segera selesaikan presentasinya Ren, kan tinggal dikit lagi itu. Lalu istirahat aja buat besok,” kata beliau. Aku tidak mengiyakan, bandel sekali. Masih mencoba memaksa membaca di kampus bersama teman-teman yang akan sidang hari setelahnya. Soalnya aku takut sekali akan diuji oleh Bu Mae, dosen dengan spesialisai biokimia molekuler *fiuh*. Jadilah siang itu aku belajar biokimia dengan satu teman. Ibu ini yang membuatku sangat risau menghadapi sidang esok hari.

Sore aku kembali ke kosan. Sudah tidak bisa lagi membaca apapun. 

Yang diingat pada sore itu adalah aku menelepon bapak dan ibu, menangis sesenggukan. Bilang kalau aku takut buat sidang besok. Bapak bilang,” Udah didoain sama bapak sama ibu, Mbak Reni sekarang istirahat aja.” Sebentar saja lalu menutup telepon. Pastilah aku saat itu membuat mereka khawatir. Maafkan ya Pak, Bu. Lalu ada telepon dari Falma dan Dian, yang aku sendiri tak keruan menjawabnya, aku bilang takut sama Bu Mae. 

Lalu datang Ica dan Ratih. Aku yang masih sesenggukan merisaukan esok hari. Lalu begini kata Ica,” Ren, aku ngga tau harus memberi masukan yang tepat seperti apa. Tapi Ren, ini rasanya cuma siklus kan ya. Tahun lalu aku sidang, rasanya deg-degan lalu terlewati. Sekarang Reni sidang, deg-degan risau-risau begini. Tapi Ren, besok setelah dhuhur itu InsyaAllah sudah terlewati. Nanti Reni InsyaAllah udah lega. Ini ngga tau deh nanti buat sidang tesis mungkin aku akan deg-degan lagi kan Ren. Jadi pokoknya berdoa saja wes ya sama Allah. Cuma itu yang bisa dilakukan kan Ren.” Mengatakannya dengan tersenyum.

Tapi dasarnya hati sedang risau, sedang tidak mau diajak berkompromi. Jadi aku cuma ngangguk-ngangguk. 

Jadi aku melewatkan malam itu dengan menyelesaikan presentasi, tidur, dan berdoa. Karena kelelahan siang harinya, aku tidur setelah sholat isya, terbangun pukul 22.00. Segera menyelesaikan presentasi untuk sidang esok hari, kemudian kembali memejamkan mata. 

Kemudian ini cerita pada keesokan hari, 13 Maret 2013.

Ajaib. 

Jantungku berdetak tidak lebih kencang dari biasanya. Alhamdulillah, pagi itu suasana hati sangat nyaman dan tenang. Sepertinya Allah mengabulkan salah satu poin doaku “semoga diberi ketenangan hati saat sidang nanti”.

Pukul 10.00 WIB, Kamal salah seorang kawan keluar dari ruang sidang. Tersenyum lega saat keluar ruangan, lulus katanya. Maka sekarang giliranku. 

Lalu aku melangkah masuk ke ruang sidang dengan hati yang Alhamdulillah tenang dan nyaman. Melakukan presentasi dengan Alhamdulillah lancar. Tanya jawab dengan dosen penguji. Kemudian tepat pukul 12.00 WIB selesai tanya jawab aku diminta keluar ruangan, dosen-dosen ingin berdiskusi sebentar. 

Tahu tidak? Keluar dari ruangan aku menyadari satu hal. 80% pertanyaan yang diajukan oleh dosen penguji adalah materi yang aku baca. Allah mengabulkan juga satu poin doaku “semoga dosen penguji mengajukan pertanyaan dari materi yang sudah saya baca”. Sepuluh menit kemudian aku diminta masuk kembali ke ruang sidang. Pak Mamid, Bu Mae, Bu Lulu, dosen penguji, memberitahukan bahwa aku lulus. Alhamdulillah. 

Begitu cerita singkat 2 hariku. 

Oya, tentang dosen yang aku risaukan. Bagaimana Bu Mae saat sidang?

Ah begitulah yang biasa terjadi bukan? kita suka sekali merisaukan hal-hal yang belum terjadi. Bu Mae saat sidang adalah dosen yang dengan senyum manis menanyakan hal-hal yang 'kebetulan' aku sudah baca. Dia mengajukan setiap pertanyaan padaku dengan lembut. Apabila aku kurang mengerti pertanyaan yang diucapkan, beliau mengulangi dengan hati-hati hingga aku paham lalu dipersilakan untuk menjawab.

Jadi kalau sekarang deg-degan buat besok, halau saja risaunya. Berdoa, percayakan saja pada Allah.

Hmm. Aku ulang lagi ya pertanyaan di atas.

Apa kau sudah merasa setiap sel di tubuhmu berontak ingin segera menyelesaikan ini?

Maka ini berarti memang sudah saatmu berkata 'hai' pada pendadaran. Temui saja dosen penguji. Lakukan presentasi mengenai penelitian yang kau lakukan, jawab pertanyaan yang diajukan dengan percaya diri. Jangan sotoy tapi ya hehe.

Setelahnya, rasanya akan sangat lega. Boleh ya aku analogikan seperti menahan eeemmm.. seperti menahan pup :p Kau mencari kamar mandi kemana-mana. Berputar sana-sini. Kamar mandi di sana penuh, banyak yang mengantri. Yasudah kau mencari di tempat lain. Ah, ada kamar mandi kosong. Kau melongok ke dalamnya. Eh ternyata tidak ada air dalam baknya. Maka kau terseok menampung air di ember, menahan perutmu yang melilit. Berusaha agar tak terjadi kontraksi sehingga ‘dia’ keluar tidak pada tempatnya. Setelah ember penuh kau mengangkatnya ke kamar mandi kosong itu. Sudahlah, lalu lega. *lebay ya tapi begitu kok kurang lebihnya hahaha*

Yakin sajalah. 
Allah menghitung setiap usaha, Allah mengabulkan doa-doa :”) 

Aku tau kau sudah memiliki list doa secara detail. Semoga sesuai dengan harapanmu.

Ini hanya masalah waktu, begitu bukan Paps? Besok kira-kira pukul 10.00 WIB InsyaAllah kau akan sudah melewati pendadaran, sudah menyelesaikan satu tugas yang diamanahkan bapak dan ibu. Setelah itu InsyaAllah akan banyak kesempatan lain menunggumu. 

Maaf aku tak bisa menyambutmu saat keluar dari ruang sidang esok hari. Tapi doaku untukmu InsyaAllah tak pernah berhenti, Paps. Sebagai ganti tak dapat hadir, aku mengucapkan selamat pendadaran dari tempat ini ya.

Semangat Paaaps!
Dari satu tempat yang baru pertama kali aku menapakkan kaki, tempat tertinggi yang aku pernah berdiri. 

Oya, baca ini juga ya, Paps.

“Rabbish rahli sodri (25) wa yassirli amri (26) wahlul ‘uqdatam min lisani (27) yafqahu qauli.” (Taha : 25-28)

Artinya; “Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku, dadaku; dan mudahkanlah bagiku, tugasku; dan lepaskanlah simpulan dari lidahku, supaya mereka faham perkataanku.” 

Baiklah. Semangat untuk pendadaran besok. Ayo kalau sudah selesai segala urusan-urusan segera kunjungi aku. Akan kutraktir menyelam lalu kita bisa trekking gunung batur bersama :’)

Saat wisudaan nanti aku InsyaAllah akan pulang ke rumah. Lalu harus kita jadwalkan lagi bersepeda bersama. Okelah Paps, aku tunggu kabar baik darimu esok hari!


 Jadi (agak) rindu padamu :p

Oya satu lagi, aku ingat kata temanku saat itu. Semoga kita juga ingat untuk sidang-sidnag lain berikutnya. Dia bilang seperti ini,

"Baru sidang begini lho Ren, belum lagi sidang di akhirat ntar."

Eh, betul juga ya.

Senin, 14 Oktober 2013

Pada sahabat.

Saya hendak meminta maaf karena ketika akan menelfon tengah malam sebelum pergantian hari saya jatuh tertidur. Tertidur hingga keesokan hari dengan masih menggenggam handphone di tangan.
---

Hari Minggu saya dan Febri berencana mengunjungi beberapa tempat di pulau tenggara Bali ini. Untuk itu pagi ini saya menemani Febri ke tempat penyewaan motor. Tempat penyewaan motor ada di Rumah Datuk Iti, nenek dari Izah.

Kamu masih ingat Izah Din? Anak kecil yang aku ceritakan dulu.

“Assalammualaykum,” kata saya sambil mendorong pintu belakang.
“Waalaykumsalam,” jawab orang di rumah.

Saya lihat ada Izah sedang menurunkan standar sepedanya.

“Mbak Reni mau kemana, katanya mau sewa motor ya?” tanya Izah
“Mau ke Atuh Zah, ada temen Mbak Reni ikut main ke sini terus katanya mau jalan-jalan ke sana. Jadi aku mau minjem motor bapaknya Izah buat main kesana ya,” kata saya.
“Tapi bapak lagi keluar Mbak Ren, aku bilang ke mamak aja ya,” kata Izah.

Lalu dia lari ke dalam rumah memanggilkan mamaknya. Sebentar kemudian ibu Izah ke luar, saya bilang mau menyewa motor dua hari untuk ke beberapa tempat. Beliau mengiyakan kemudian masuk ke dalam rumah mencarikan kunci motor.

“Zah, Izah inget ngga sama Kak Dian?” tanya saya
“Kak Dian yang fotonya ada di hp nya Mbak Reni itu?” kata Izah menatap saya dengan matanya yang cemerlang.

Dia mengingatmu, Din.
Kalian belum bertemu tapi dia mengenalmu dari cerita-ceritaku.

“Zah, Kak Dian hari ini ulang tahun lho, doakan Kak Dian ya Zah,” kata saya.
“Ulang tahun yang ke berapa Kak Dian nya sekarang Mbak Ren? Nanti dah tak doain Kak Diannya. Eh kalo ngucapin sekarang telfon Kak Dian boleh nggak?” tanya Izah.

Dia bilang dia ingin ngucapin selamat ulang tahun padamu Din.

“Hmm. Kalau Izah ngucapinnya ditulis mau ngga? Biar awet Zah. Kalau langsung bilang nanti Kak Diannya denger sekali aja jadinya ngga awet deh hehe, ” kata saya.
“Boleh Mbak Ren, ngga papa. Sekalian mau ngajak Kak Diannya ke sini ya Mbak. Dimana nulisnya?” tanya Izah sambil senyum, senyum manis.

Lalu saya keluarkan buku catatan, memberikannya pada Izah beserta satu pulpen. Kemudian aku menemui ibunya di dalam rumah, berbicara sebentar tentang waktu pengembalian sepeda motor. Kira-kira sepuluh menit kemudain Izah menghampiri saya, mengembalikan buku catatan.

“Ini Mbak Ren, udah buat Kak Dian. Ntar ajak Kak Dian main ke sini ya Mbak Ren,” kata Izah kemudian mengambil sepedanya, mengayuh pedal sepeda keluar dari pekarangan rumah.

Dia menuliskan ini untukmu.



Jelas terbaca tidak Din?
Aku ketik lagi kalimat yang ditulis Izah ya :)
---

Toyapakeh, 13 Oktober 2013
Halo Kak Dian selamat ulang tahun semoga panjang umur sehat sentosa, semoga lulus. Kak Dian kapan main ke nusa penida nanti main ke penide puncak mundi, mandi laut, jalan-jalan ke nusa penida keliling nusa penida, ke peguyangan, nyabut asamku, terus nyari manggaku, melihat santrais, sunset, melihat matahari yang terbit di pagi hari dan siang hari terus Kak Dian ajari aku belajar okeeee!
-Nur Azizah
---

Kalian belum bertemu, belum pernah bertatap muka satu sama lain bukan?
Tapi Izah mengenalmu.

Panjang umur sehat sentosa, doa Izah. Katanya semoga Kak Dian lulus. Dia tahu kamu sedang menempuh pendidikan S2. Diajaknya kamu mandi laut. Mandi laut itu berenang Din, jadi sebelum menginjakkan kakimu ke pulau ini kamu harus bisa berenang ya. Pun belum bisa nanti aku pinjamkan jaket pelampung. Di rumah Izah ada satu pohon asam yang tinggi dan sedang lebat berbuah Din, makanya diajak nyabut asam. Dan ajakan-ajakan lain yang sudah ditulis Izah di atas ya.

Itu Din, aku ingin sampaikan dari satu teman kecil kita. Kalau nanti kamu ada kesempatan ke sini, aku kenalkan ke Izah juga teman-teman lain :)

Lalu dariku?
Hmm. Dariku begini Din.

Jadi tadi aku ke satu pantai, namanya Pantai Atuh. Sesampainya di pantai itu, aku mendapatinya sebagai pantai yang begitu tenang, sepi. Hanya ada 4 orang di situ yakni aku, Febri, dan dua kawan yang berasal dari desa tempat aku menginap yang mengantarkan kami ke sini. Oya, setelah itu ada dua orang lagi dari suatu yayasan datang.

Jadi minggu siang ini di Pantai Atuh hanya ada kami berenam. Tenang sekali rasanya, Din.

Semoga doa-doa ini didengar alam.
Tidak perlu aku jabarkan ya Din.
Biarkan bisikannya hinggap pada butir-butir pasir di tepian
Terbang oleh angin lalu disampaikan-Nya padamu

Oya, bukan berarti aku tidak ingin mengucapkan secara lisan. Jadi jangan lupa ya nanti mengecek video singkat yang aku tautkan padamu ;)

Terakhir Din,
Someone wrote, Allah knows who belongs in our life and who does not. Trust and let go. Whoever is meant to be there, will still be there.

Aku hanya kangen mengerjaimu bersama teman-teman lain, seperti yang dilakukan 4 kali berturut-turut dalam tahun-tahun terakhir kemarin. Dian, terimakasih sudah menjadi teman yang teramat baik dari sejak pertama kita bertemu :”)





Senin, 07 Oktober 2013

Rumah dan sepi.

Di mana rumahmu?” tanya anak itu pada saya saat kami tergesa menyusur setapak.

Rumah? Di sini salah satu rumahku,” sahut saya.

Oh, berarti ada yang lain ya. Dimana?” tanyanya lagi.

“Keluargaku juga rumahku,” kata saya.

Ada lagi selain itu?”

--- 



Rumah.



Rumah bagi saya adalah orang-orang atau tempat-tempat yang saya ingin kembali lagi dan lagi. Dimana saya berucap syukur -untuk kesekian kalinya atas izin Sang Pemilik- ketika dapat dipertemukan kembali dengan orang-orang atau dapat menapakkan kaki lagi di tempat tersebut. Kenyaman dan ketenangan adalah dua kondisi perasaan yang saya temukan ketika berada di rumah. Dua rasa, nyaman dan tenang, mungkin inilah sebabnya kata rumah berkerabat dekat dengan kata cinta. Sedang mencintai menurut hemat saya adalah menumbuhkan, menjaga, kemudian mengajak orang-orang yang kita sayangi untuk berusaha bersama menetapi apa yang terbaik menurut-Nya. Betul, yang terbaik menurut-Nya, bukan lagi yang terbaik menurut saya.



Dari masih pendeknya perjalanan yang saya tempuh di bumi, ini dia rumah saya;

Bapak, ibu, dan Ratri.

Jangan salahkan aku Rat, kalau membuatmu kesal dengan menggelitiki telapak kakimu, usil menyeret selimutmu saat adzan subuh telah berkumandang tapi kau masih menggeliat di kasurmu. Itu aku lakukan karena aku mencintaimu. Toh kau juga sangat menyebalkan pernah mengganggu tidur siangku. Tapi terimakasih, kau begitu karena tak mau aku melewatkan dhuhurku bukan?;) 

Kemudian Pakeh, satu desa yang saya pernah sebentar tinggal disana setahun lalu. Dengan dua orang terdekat yang sudah seperti ibu dan kakak saya sendiri, yakni Makdah dan Mbok Tik, begitu saya biasa memanggil beliau berdua. Sampai bertemu akhir minggu ini ya Makdah, Mbok Tik, InsyaAllah.

Itu dua rumah utama saya. Sedang mencoba berjalan lebih jauh, siapa tahu saya dapat menemukan rumah lain lagi di depan sana :)

Masih tentang rumah.

Satu lagi. Rumah yang saya belum pernah menapakkan kaki di sana. Rumah dimana saya berharap disana akan dikumpulkan bersama orang-orang yang saya sayangi. Rumah yang baru hanya bisa saya bayangkan dari apa yang tertulis di buku-buku, penggambarannya tergores pada kitab.

Dikatakan bahwa di rumah ini mengalir di bawahnya sungai-sungai. Penghuni rumah ini memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal duduk-duduk bersandar di atas dipan-dipan yang indah. 

Dikatakan juga bahwa rumah ini bertempat di atas langit ke tujuh, dekat Sidratul Muntaha.

‘Rumah’ tempat kembali dengan tiada pembanding, yang membuat Asiyah bertahan atas kezaliman Firaun. 

Adalah satu siang dengan sinar mentari yang menyengat ketika Asiyah diikat sebanyak 4 ikatan pada kedua tangan dan kakinya pada tiang-tiang yang dipatok ke tanah. Suaminya berlaku seperti itu berharap agar keimanan sang istri kembali padanya. Apa yang terjadi? Asiyah memegang teguh keyakinan pada Allah. Dalam penyiksaan oleh Fira’aun, Asiyah berdoa agar dibuatkan rumah di sisi-Nya, dan diselamatkan dari kekejaman Fir’aun dan dari kaum yang zalim. Allah dengan kekuasaan-Nya memperlihatkan tempat tinggal wanita ini di surga. Bertahanlah Asiyah. Ketika algojo suruhan Fir’aun kembali menanyakan bagaimana keimanannya, Asiyah menjawab tetap pada pendiriannya. Kemudian sesuai perintah Fir’aun, bila Asiyah tidak juga mengubah iman menjadi padanya maka algojo diperintahkan untuk memukulkan batu ke kepala wanita ini. Selesai dia menjawab, algojo mengangkat batu bersiap-siap memukulkannya ke kepala Asiyah. Namun pertolongan Allah mendahului siksaan algojo. Allah memerintahkan malaikat Izrail mencabut nyawa Asiyah, sesaat sebelum batu besar dipukulkan ke kepalanya. 

Asiyah, salah satu dari empat wanita utama penghuni surga. Wanita ini mendapatkan tempat di sisi Allah, di ‘rumah’ tempat segala amal baik dibalas. Rumah dengan pesona yang dahsyat;)

Ehm, sesungguhnya kita semua dalam perjalanan pulang ke ‘rumah’ bukan?

Pada beberapa kesempatan dalam perjalanan pulang ini kita bertemu orang-orang, kemudian bersama berjalan. Jalanan ini sungguhlah luas sehingga satu dua urusan membuat orang berjalan berdua-dua, berkelompok, pun ada yang sendiri memisahkan diri, memilih jalan lain memutar, mengambil jalan ke sebelah kanan atau kiri, menurut pada prioritas masing-masing. Bertebaran di muka bumi. Meski mengambil jalan yang berbeda, tapi tetap, tujuan kita sama bukan? 

Kadang spekulasi-spekulasi buah pikiran membuat kita merasa sedang berjalan sendiri. Tetapi Ya Rabb, sejatinya kita tak pernah sendiri bukan? Maafkan makhlukmu yang berpikir demikian Ya Rabb. Seperti pagi ini ketika mendapati ada yang tidak beres dengan hati. 

Alasan yang sepele saja. Hanya karena berharap terlalu berlebih pada sesi melingkar kemarin. Ingin bertanya, mengajak berbagi, tapi kemudian kecewa karena tidak seperti yang diharapkan. Tentu hal seperti ini sudah menjadi urusan yang diatur oleh-Mu. Setiap orang pastilah memiliki prioritas masing-masing yang begitu mendesak. Jadi siapa saya mau mempermasalahkan hal tersebut? Agaknya dari hal ini saya dibuat belajar lagi; untuk selalu memperbaiki niat dan berharap hanya pada-Mu.

Dari ketidakberesan rasa tadi, saya coba berkirim pesan pada seorang kawan. Lalu dia pagi ini menjadi ‘perpanjangan tangan-Mu’, memahamkan satu hal yang sudah dituliskan oleh-Mu. 

“Reni lagi di deket-deket Qur’an ngga Ren. Aku tunjukin satu ayat yang ruaaar biasa. Oke sip Al Baqarah ayat 38 ya Ren. Coba kita baca bareng-bareng. Ada yang agak ‘janggal’ ya pilihan katanya. Kan Gusti Allah ngendika: maka BARANG SIAPA mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada MeEREKA dan mereka tidak bersedih hati. 

Nah itu Reni. Kira-kira Allah lagi bicara sama siapa itu. Kalo Reni buka terjemahan per-ayat, Reni bakal tahu kalo faman tabi’a (barang siapa mengikuti/ beriman/ taat) disana me-refer ke satu orang Ren. Personal. Gusti Allah mau ngendika ke kita aja sendiri.

Lho padahal kan abis itu Allah ngendika: khoufun ‘alaihim ya Ren. Yang artinya rasa takut atas MEREKA. Aneh ya Ren, kok ngga dari awal aja Allah ngendika: Maka mereka yang ikut petunjuk-Ku, tidak ada rasa takut pada mereka, dst. Eh malah ngendika: Maka SIAPA YANG (personal individu) ikut petunjuk-KU, dst. 

Tau ga Reen, ternyata kenapa Allah bilang begitu ya Ren, karena Allah itu tahu kalo kita pada suatu saat tertentu bisa jadi memang akan sendirian Reen. Jadi Allah secara personal berbicara sama kita: faman tabi’a. Diperintahkan secara personal individu, kepada kita, mengikuti petunjuk Allah. Apapun keadaannya. 

Percayalah ren, di luar sana mungkin ada saudara kita yang lagi co-ass di timor leste atau manapun. Sendirian. Tapi lagi-lagi: faman tabi’a. Biarpun sendirian, dia tetep yakin sama Allah. Sama pertolongan dan petunjuk Allah. Yakin ngga masalah walaupun sendirian, It’s oke. Dia yakin nanti Allah siapkan satu kompi barisan temen-temen yang sama-sama baris di jalan Allah jadi ngga sendirian lagi.”

Kemudian teringat pada kisah Asiyah, yang lalu saya selipkan di atas. Anak ini  juga mengingatkan tentang perang Uhud dimana pasukan yang meski sedikit tetap dibagi dua oleh Rasul, pasukan bukit dan pasukan berkuda, sehingga satu dapat membantu yang lain, saling mengawasi dari kejauhan. Dua contoh yang cukup menjadi pelajaran. 

Membacanya kemudian membuat hati kembali nyaman, tenang. 

Tapi pada dasarnya kita memang tidak pernah benar-benar sendiri,

Gusti mboten sare. 

Baiklah, kali ini saya sedang dalam perjalanan pulang. Mau seperti apakah perjalanan ini saya isi dan bagaimana juga ke depannya? Berbuat selagi bisa dan saya tulis saja sembari menunggu kejutan kejutan.

Semangat yuk ah! Hoho.

--- 

Oya satu lagi. Ini untukmu sang pemilik tulang rusuk -yang aku masih belum tahu siapa-, aku berdoa agar nanti saat berjalan bersamamu, kemanapun itu, aku bisa merasakan bahwa ‘rumah’ itu dekat. 

Rabu, 02 Oktober 2013

Penghias langit.

Dear Ustica Haedy,
Aku hanya ingin sedikit menekankan suatu hal terkait pembicaraan kita yang sudah-sudah. Tentu kau sudah begitu baik memahaminya, lebih baik dariku. Hanya saja menerima pesanmu pagi ini aku jadi ingin sedikit berbagi. Namun terkadang melalui sebaris kalimat, sepenggal kata-kata, pun sekedar berkirim emote melalui telpon genggam tak cukup menggambarkan maksud yang ingin kusampaikan padamu. Maka pada kesempatan ini boleh ya aku bercerita secuplik perjalanan :)


Kali ini adalah tentang kesempatan yang hilang.

Umm, maaf salah. Bukan seperti itu. Aku rasa redaksi kalimat yang lebih tepat adalah;

kesempatan (yang menurut kita) hilang, sedang Allah sudah menyiapkan kesempatan lain yang lebih baik. 


Boleh ya aku mulai dengan mencantumkan sedikit tulisanmu :)
--- 


18 Mei 2013
Prosa khatulistiwa.

Selepas subuh, dengan mukena masih membalut badan, kami bertiga berjalan ke pantai tanpa pulang dulu ke rumah Makdah. Kata Reni, dia akan memperlihatkan rasi bintang Orion (yang pada akhirnya kita menyerah karena tidak bisa menemukannya dari kerumunan bintang yang ‘mendadak’ -entah bagaimana- menjadi sangat banyak dan ramai macam pasar kaget di depan Gedung Sate. :D)

---



Pertengahan Juli 2013.

Pagi benar sehabis subuh aku dan dua temanku menyusur naik-turun jalanan berbukit di Amed. Berhenti di beberapa lokasi, melongok-longokan kepala ke beberapa halaman penginapan, mencari tempat paling nyaman menunggu terbitnya mentari. Mencari lahan lapang tanpa penghalang pada sudut barat, ke arah garis horizon tipis pembatas laut dan langit. 



Kepala kami melongok setiap beberapa meter pada penginapan-penginapan yang memiliki halaman yang menghadap ke arah barat. Berhenti sejenak di celah yang menyisakan ruang antar penginapan satu dengan yang lain, atau pada sela-sela nyiur yang berbaris di tepian. Menemuinya masih kurang begitu pewe lalu kembali menyusur jalanan, hingga kami sampai di ‘gardu pandang’ ini. 

Adalah sebuah penginapan besar yang tampak usang tak berpenghuni. Jalan setapak menuju pintu utamanya ditumbuhi rerumputan liar yang sudah mulai menua, warna hijaunya berubah menjadi kekuningan, mengeras. Mengintip dari celah pintunya yang berderit ketika digeser, ruangan di dalamnya luas berdebu dengan pilar-pilar penyangga atap bangunan. Cat di dindingnya terkelopek di banyak bagian. Mencoba menelisik dari jendela-jendela rendahnya, ada sebuah tangga melingkar untuk turun ke bawah.

Menyudahi mengintai bagian dalam gedung aku segera melangkah ke halaman luas di depan bangunan tersebut. Halamannya benar luas. Pemandangan yang lapang. Mengedarkan pandangan ke sekeliling, gedung ini kurang lebih berdiri di satu bagian bukit di Amed sehingga dari atas sini bangunan lain tampak bersemayam lebih rendah di bawah. Berjinjit dengan memegang pagar tembok rendah berukir, sejauh mata memandang adalah laut biru berkawan langit dengan berwarna semburat oren keemasan di atas batas garis horizontalnya. 

Siapa sangka, kebahagiaan dapat kita temukan di bangunan tua usang seperti ini?

Wajah langit di ufuk barat selepas subuh saat itu. Hasil karya Tuan Langit kita :’)

Wajah langit pertengahan Juli lalu di Amed

Tak ingin menyia-nyiakan udara pagi segar yang disediakan alam, aku menghirup nafas dalam-dalam, menggunakan kapasitas maksimal paru-paru. Membuka kelopak mataku lebar-lebar, mendongakkan kepala. 

Hey, lihat itu. Konstelasi yang sangat familiar!

Empat bintang membentuk segi empat dengan tiga bintang berjajar di tengahnya. 

Orion dengan tiga bintang berjajarnya yang khas

Orion disusul mentari

Ini dia Ca, Orion. Satu rasi yang saat itu kita tak beruntung bersama melihatnya. Dari rasi bintang, ada dua yang (menurutku setidaknya) mudah diidentifikasi tanpa membuka stellarium, yakni konstelasi ini dan konstelasi Scorpion.

Orion; bintang paling terang dari konstelasi ini adalah Rigel. Tiga bintang yang berjajar di tengahnya adalah Alnitak, Alnilam, Mintaka (Alnilam berasal dari bahasa arab :D). Jajaran tiga bintang, posisi unik yang memudahkan kita mengenali konstelasi ini. Hal menarik lain dari konstelasi ini adalah adanya bintang penyusun yang bernama Bellatrix. Nama yang familiar bukan? Ternyata banyak nama tokoh di novel itu diambil dari nama-nama bintang, seperti Remus, Regulus, Sirius :)

Kembali ke pembicaraan sebelumnya. 

Januari lalu dengan-masih-berbalut-mukena, seperti tulismu di atas,melalui gang-gang gelap kita bertiga menuju pantai selepas subuh di desa itu, mencari peruntungan melihat konstelasi ini. Entah itu terlalu banyak bintang bertebar atau jangan-jangan awan saat itu agaknya sedang berembug rapat sehingga berkas-berkas cahaya Orion terhalang, tak tertangkap kornea mata kita.

Tapi Ca, seperti yang kita tahu, Orion tetap beredar di langit. Pagi ini, esok, esoknya lagi, pun satu pagi Januari lalu –saat kita sedang kurang beruntung- atau bahkan kemarin lusa Orion tetap di langit. Bergerak patuh pada lintasan edarnya. Kecuali Tuan Langit berkehendak lain.

Namun, untuk dapat memandangnya sempurna seperti selepas subuh ini -dalam hal ini aku yang sedang berdiri di halaman penginapan usang- perlu menunggu pergantian bulan juga berpindah tempat. Pagi itu kita ke pantai coba memandang langit mencari Orion di sana, tapi tak terlihat. Bisa saja esok sebelumnya ketika kita ke tempat itu kita bisa melihatnya, tapi sayang tak kita coba saat itu. Atau esok berikutnya ketika kita kembali ke sana mungkin kita bisa melihatnya, tapi tak jua kita coba. Aku rasa memang ada saat-saat kita perlu menunggu dengan tetap berusaha untuk dapat menatapnya utuh. Bersabar menunggu berkas-berkas awan perlahan menyingkir dari satu dua bintang penyusun konstelasi. Kali ini tak terlihat dari tempat ini, mungkin dapat kita coba untuk melihatnya dari tempat lain.

Agaknya begitu juga kan Ca yang berlaku pada urusan rejeki yang sudah ditetapkan-Nya?:) 

Atau bisa juga kemungkinan ini yang terjadi. 
Saat memandang langit pagi yang sedang berawan kita bisa mengira satu dua bintang termasuk dalam satu konstelasi tertentu. Bukan berarti ada satu dua bintang di langit barat pagi-pagi sekali, lalu kita bisa berkata bahwa itu Orion bukan? Tanpa benar mengecek koordinatnya pada stellarium. Berspekulasi.

Lalu kita memutuskan menunggu, bersikeras untuk melihatnya tapi kumpulan awan masih menutup konstelasi. Awan rapat bergeming. Tak bergerak.

Kalau begini hanya satu yang bisa kita lakukan, betul bukan Ca?;)

Iya betul, berdoa.

Jalan penyelesaian dimana urusan-urusan tidak lagi terhubung secara horizontal. Sehingga tak perlu lagi aku keluhkan padamu kapan kita bersama bisa melihat konstelasi utuh Orion, karena aku tahu suatu saat (barangkali) kau lelah mendengarku melulu bertanya. Sehingga tak lagi kau usulkan padaku kesana-kemari untuk bersama memandang utuh konstelasi ini pagi-pagi, karena (barangkali) aku sudah terlalu lelah untuk selalu berpindah tempat.

Oleh karena itu kan Ca, kita sepakat bahwa jalan paling paling baik adalah dengan berdoa, membangun hubungan vertikal pada Penguasa Langit dan Bumi. Siapa tahu sejurus kemudian doa-doa kita melesat naik, lalu Tuan Langit akan berbaik hati menggerakkan angin untuk mempercepat pergerakan awan yang menutupi konstelasi ini ;)

Tapi tunggu, atau ini yang malah sebenarnya terjadi.
Bila berbagai macam cara sudah kita coba; berpindah tempat, berganti waktu, kemudian menunggu awan menyingkir, pun sudah berdoa pada Sang Maha Penggerak, berharap Dia menggerakkan angin untuk menggeser awan yang rapat menutup konstelasi; tapi tak jua menunjukkan tanda, maka agaknya memang harus kita sudahi. Mendongak terlalu terfokus pada konstelasi di langit, aku takut kita jadi tidak menyadari ada perahu merapat ke tepian yang hanya berjarak dua pelemparan batu dari kita berdiri. Perahu yang disiapkan untuk kita menyusur laut, menikmati keindahan lain Sang Pemilik.

Bolehlah kita sebut kemungkinan-kemungkinan tersebut dengan kejutan-kejutan.

Benar ya Ca, menarik sekali rasanya menunggu kejutan-kejutan. Berdebar-debar gimana gitu hehe. Apa lagi ya yang sedang dipersiapkan-Nya di depan sana?

Allah knows, we do not.

Yang terpenting adalah kita sudah mengusahakan yang terbaik, begitu bukan Ca?

Semoga nanti ada kesempatan lagi kita beli es krim spongebob rasa pisang dari istek, lalu duduk-duduk di kursi di taman ganesha, atau di lapangan cinta di kampus juga boleh hehe. Duduk-duduk di bawah pohon besarnya yang rindang sambil ngobrol banyak hal :’)


Faidza 'azzamta fatawakkal ‘alallah.
---

Dengan menulis ini aku juga sedang menasihati diriku sendiri.

“Jika sepotong kisah hidup kita tidak selesai, tutup potongan tersebut, lanjutkan kisah yang lain. Ada banyak cerita baru yang lebih seru telah menunggu. 
Jika sepucuk keinginan kita gagal terpenuhi, maka tinggalkan keinginan tersebut, teruskan keinginan yang lain. Ada banyak keinginan yang lebih baik yg tersedia. 
Hidup ini sebentar, jangan habiskan berkutat di sepotong kisah saja.” 
-Tere Liye

Sabtu, 28 September 2013

Sanur Village Festival 2013.

“Mari seluruhnya kita panjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa agar kegiatan hari ini berjalan lancar,” kata Pak Ena, pemilik Dive Operator Ena Dive.


Pukul delapan pagi seluruh peserta Underwater Clean Up Sanur (UWCU Sanur) sudah berdiri di tepi pantai dengan setelan menyelamnya masing-masing. Setelah sejenak berdoa, melaksanakan foto seluruh tim, kemudian masing-masing tim menuju ke perahu yang sudah disepakati pembagiannya.

Kegiatan Underwater Clean Up ini merupakan salah satu dari berbagai agenda yang masuk dalam penyelenggaraan Sanur Village Festival 2013.

Panitia dan peserta Underwater Clean Up Sanur 2013

Tim kami, berjumlah 7 orang, diketuai oleh Pak Ena. Selain Pak Ena, 6 orang lain yang menjadi satu tim dengan beliau ialah Mbak Pariama Hutasoit, Direktur Nusa Dua Reef Foundation, Pak Adrianto Mulya, fotografer yang ditugaskan mengabadikan momen ini, Pak Ena, pemilik Ena Dive yang bekerja sama dnegan pemerintah untuk menyelenggarakan UWCU Sanur pagi ini, dua orang mas-mas dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL), bli yang mengendalikan perahu, dan saya sendiri.

Segera setelah mengambil tempat pewe di perahu, kami menyiapkan alat masing-masing. BCD, tanki, regulator dipasang diputar kanan kiri hingga ter-set-up siap  digunakan dalam penyelaman. Saya mencoba memasukkan udara dari tanki dengan menekan katup inflator berwarna biru untuk menggembungkan BCD. Yang terdengar hanya bunyi “sssshhhhh” udara yang keluar dari sela tombol tersebut. saya coba tekan lagi beberapa kali. Tetap saja bunyi “sssshhh” yang terdengar. BCD tidak mau menggembung. Gawat.

“Mbak Ama, Mbak Ama, kok ini ngga mau masuk ke BCD  ya udaranya?” tanya saya.

“Coba sini Ren,” kata Mbak Mbak Pariama meraih regulator yang sudah diset bersama tanki dan BCD dari tangan saya. Menekan tombol biru dan hanya bunyi “sssshhh” yang terdengar. “Kayaknya ini bocor deh.”

Haduh.

“Coba lihat sini saya coba” kata Pak Ena.

“Ini sudah lama ndak dipake, udaranya ndak bisa masuk ,” kata Pak Enak setelah mencoba beberapa kali dengan bunyi “sssshh” saja.

“Oh gitu ya Pak, yaudah ngga papa Pak nanti saya tiup manual aja ntar pas di permukaan ngayuh pake fin aja kalo emang ngga bisa digembungin hehe,” kata saya. Pasrah.  *Kok ya kemaren ngga dicoba dulu tho ya Ren -.-

“Eh tunggu dulu. Ini bukan inflator buat ngisi udara, kayanya yang ini tombolnya ya,” kata Pak Ena sambil menekan tombol berwarna oranye. Daaaan “puuuuff’ udara mengalir sempurna menggembungkan BCD. Yes!

“Ini IST ya, saya dulu pernah juga terkecoh tombol-tombol buat inhale-sama release,” kata Pak Ena sambil senyum.

“Waaa makasi banyak Pak Ena, iya ya Pak habis kan biasanya di BCD lain di bagian ini ya Pak gembunginnya hehehe” kata saya dengan senyum ‘yes’ memeluk erat BCD yang sudah menggembung sempurna *oposih hahaha

Spot penyeleman berada tidak jauh dari tepi pantai. Sepuluh menit kemudian perahu berhenti. Setelah pembagian tim kecil, persiapan selesai, kami memakai BCD masing-masing, kemudian ber-backroll “jbuuur!” terjun ke laut.

Tim kecil ini dibagi menjadi dua, saya bersama Mbak Ama menyelam ke selatan, sementara itu Pak Ena bersama Pak Adrianto dan 2 mas-mas dari BPSPL menyelam ke utara. Titik temu kami, kata Pak Ena,” Nanti Ama ke arah selatan lalu berbalik lagi, saya juga ke arah Utara nanti balik lagi. Di sebelah ponton ini ada batu gede di sebelahnya lagi ada substrat berpasir, di situ nanti bertemu ya.”

Dan dimulailah underwater clean up pagi ini. Menekan deflator mengempiskan BCD membuat saya turun perlahan. Tidak terlalu dalam, hanya 9 atau 10 meter. Nyaman dengan buoyancy saya mengayuh fin mengikuti Mbak Ama.

Channel, begitu katanya nama spot ini. Dipenuhi karang porites seukuran mobil avanza atau ada yang lebih besar lagi gabungan-gabungannya. Sambil membawa kampil sya tengok kanan-kiri melihat apakah terdapat plastik, kain, atau sampah anorganik semacamnya. Sesekali Mbak Ama menunjuk ke suatu arah, memperlihatkan kalau ada sampah, lalu saya kayuh fin perlahan untuk mengambilnya.

Kain yang tersangkut di karang

Berkali-kali saya mengambil ‘sesuatu’ yang tersangkut di karang, yang awalnya saya kira kain atau  platik bungkus makanan tapi kemudian saat ditarik dari karang lalu diamati, ternyata si ‘sesuatu’ ini adalah popok bayi. Sedikit tersaru karena warnanya aslinya sudah tertutup oleh alga atau pasir yang menutupi permukaannya, tapi setelah ditarik terlihat pengerat karet khas popok bayi yang bergerigi. Ada delapan puluh persen dalam satu kampil sampah yang saya kumpulkan berisi popok bayi. Ada apa ini hehe. Selain popok bayi ada juga plastik-plastik dan kain yang tersangkut.


Memungut sampah anorganik yang tersangkut pada karang  
Popok bayi tersangkut di karang
Mbak Ama memungut sampah anorganik
Saya (bergaya, hehe) membawa dua kampil tempat mengumpulkan sampah anorganik
Pak Ena menunjukkan 'time is up' pada Pak Adrianto

'Oke kita foto dulu ya sekali lagi' kode Pak Adrianto pada Pak Ena

Dua hal yang saya suka dari menyelam. Pertama, saat menyelam komunikasi terbangun tanpa berkata-kata *ecieeh. Tapi beneran loh hehe. Dipaksa untuk tidak berkata-kata sehingga yang berlaku adalah kode-kode, atau melihat mata buddy. Dari sini bener deh saya percaya bahwa mata itu tidak bisa bohong:). Kedua, saya suka memperhatikan hewan tumbuhan laut yang super menakjubkan warna-warni dari dekat (karena kalo snorkeling suka capek kalau harus duck-dive berkali-kali). Kalau ada hamparan soft coral saya kibaskan fin “whuuuush” lalu melihat apa yang keluar dari balik kerumunan si karang lunak, atau sekedar memperhatikan betapa anggun si soft coral meliuk-liuk. Pernah juga saya iseng banget waktu lihat ada schooling baby fishes yang jumlahnya (kayanya) ribuan. Mereka berenang ke satu arah membentuk formasi. Saya gerakkan fin membelah formasi. “Syut!” formasi anak-anak ikan merenggang cepat. Saya tarik fin, saya diamkan, anak-anak ikan perlahan membentuk formasi seperti sebelumnya. Ada empat atau lima kali saya ulangi adegan membelah-formasi-menggunakan-fin lalu setelah puas melihat anak-anak ikan keren ini, kemudian pergi ke objek lain sambil melambaikan tangan ‘maaf ya mengganggu perjalanan kalian’. Sering juga saya berhenti lama di satu karang lalu iseng menunggu, lihat-lihat. Mengibaskan tangan di air pada koloni christmas three worm yang seketika menguncup, lalu sebentar kemudian mekar lagi. Atau seperti saat nyelam kali ini saya penasaran saat melihat satu bentuk kepala keluar dari karang meja rendah. Saya colek Mbak Ama, menunjuk-nunjuk ke bagian bawah karang meja rendah. Menghembuskan nafas, mengurangi udara dari paru-paru, mendekatkan badan ke substrat pasir agar bisa mengintip ke bagian bawah karang tersebut. Itu kepalanya muncul-muncul sekilas. Saya penasaran, mungkin bisa saja dia penyu atau murray eel (jarang loh dilihat di sanur). Mbak Ama ngode ‘yuk yuk ke sana’ saya membalas dengan memperlihatkan dua telapak tangan ‘bentar mbak bentar tunggu’ sambil menunjuk ke bagian bawah karang. Lalu saya memiringkan kepala, mengintip tidak terlalu dekat. Mata si hewan ini terlihat tapi tidak berani keluar, tau ada saya pasti ya hehe. menegok mencari Mbak Ama, ‘oh masih di sana’ lalu kembali mengamati si pemilik kepala. Sebentar kemudian, saya masih mengintip menunggu tidak bergerak, si hewan ini keluar dari persembunyiannya. Ah ternyata itu puffer fish! Lalu saya mengayuh fin, ngeloyor pergi mendekat ke Mbak Ama.

Kurang kerjaan banget ya haha. Biasanya memang yang cantik-cantik itu sembunyi, jadi harus cukup jeli dan sabar kalau mau lihat. Tapi jangan juga jadi lupa sekeliling, seperti yang pernah saya alami saat menyelam di Tulamben Juni tahun lalu. Kami berlima, 4 orang teman dengan satu dive guide. Memilih untuk nyantai dan tidak terkena kayuhan fin kawan di depan  saya memutuskan untuk berada di barisan paling belakang. Ceritanya kami sedang safety stop sambil antai mengayuh fin di kedalaman 6 meter. Yasudah saya lihat-lihat saja ke sekeliling sambil sesekali saya melihat ke depan, mengecek jarak dengan teman. Tapi entah ini terlalu asik mengamati kemudian saat saya lihat ke sekeliling tidak ada siapa-siapa. Panik. Saya kayuh fin dengan cepat sambil tengok kanan-kiri. Tidak ada siapa-siapa. Saya lihat ke pressure gauge tinggal 20 bar! Kemudian bernafas tenang agar tidak boros, memperlambat kayuhan fin sambil terus bergerak maju. Hingga beberapa puluh meter rasanya masih tidak ada siapa-siapa di sekekliling. Lalu kemudian saya lihat tiga pasang kaki di atas. Saya putuskan untuk perlahan ke permukaan. Sampai di permukaan, ternyata itu kaki 3 orang bule. Celingak celinguk sambil menahan ombak-ombak kecil yang berdebyur-debyur di muka. “Kak Reniiiii!” saya dengar stau orang berteriak. Saya menoleh. “Doniiiiiiii!” kata saya sambil melambaikan tangan. Ternyata saya muncul di permukaan berjarak 150an meter dari entry point kami. Naik dibantu seorang dive guide lain, melepas peralatan kemudian berjalan sempoyongan ke Puri Madha tempat kami menitipkan barang. “Pak Bagong mana Don?” tanya saya. “Pak Bagong tadi masuk lagi nyari kakak, paling bentar lagi keluar” kata Dony. Beberapa saat kemudian Pak Bagong muncul ke permukaan air, saya hanya melayangkan senyum terbaik saya ke beliau. Maafkan saya ya Pak.

Begitu yang pernah saya alami. Semoga bisa menjadi pembelajaran bahwa bukan berarti suatu hal itu mengasyikkan, terlalu fokus kemudian terlena akan hal tersebut sehingga lupa sekeliling. Lupa kalau kita harus mengikuti orang yang lebih berpengalaman di depan kita untuk kembali ke permukaan.

Kembali ke kegiatan Underwater Clean Up Sanur tadi. Dari penyelaman kemarin, berikut ini terdapat beberapa foto yang diambil oleh Mbak Pariama Hutasoit.

Telur nudibranch yang bentuknya mirip seperti bunga mawar.

Telur nudibranch mirip bunga mawar

Lalu ada pari totol biru bersembungi di balik-balik karang

Pari totol biru
Pari totol biru, tersaru oleh pasir

Saat hampir mendekati meeting point, kami bertemu dengan dua sahabat. The mother of liionfish and the ‘sengak’ puffer fish. Ini lionfish yang paling besar yang pernah saya lihat (mungkin ada yang lebih besar lagi ya di tempat lain hehe) nemplok di slaah satu sisi porites. Di sebelahnya ada si puffer fish yang kalau saya dekati dia biasa aja, stay cool berenang di kolom air.

Mother of lion fish
The puffer fish, a friend of the mother of lion fish. 
Tuh kan mukanya sengak hehehe


Kegiatan Underwater Clean Up selesai pukul 11.00 wita. Segera setelah merapat ke pantai, saya membongkar, membilas, menjemur sebentar, lalu mengepak dive gear dalam satu tas. selesia berbilas saya dan Mbak Ama memutuskan untuk berkeliling melihat stand-stand dan kegiatan pada rangkaian acara Sanur Village Festival. 

Berikut beberapa foto yang saya ambil pada Sanur Village Festival 2013, dengan beberapa foto narsis hehehe

Tabuhan musik dari anak-anak di jalan masuk tempat event diselenggarakan
Instalasi biogas di salah satu stand
Dua peserta Fishing Tournament Sanur Village Festival 2013
Salah satu peserta Fsihing Tournament berfoto di sebelah ikan hasil pancingannya
Stand berjejer menjual berbagai maca barang
Mbak Ama di sebelah gantungan-gantungan ikan hasil kompetisi memancing
Kapan lagi foto sama ikan gede digantung :p
'Permisi, numpang foto ya pak' dan bapaknya ikut lihat ke kamera *ketauan :p
Ice cream time :3




:)

Sabtu yang menyenangkan. Alhamdulillah :")

--
Semua foto ketika menyelam diambil oleh Pariama Hutasoit. Makasi banyak Mbak Ama sudah diizinkan untuk dimuat di blog saya:)